Trump izinkan tanker Chevron angkut minyak dari Venezuela ke Amerika

Kamis, 18 Desember 2025

image

JAKARTA - Aktivitas pemuatan minyak di Venezuela mulai berjalan kembali, namun sebagian besar ekspor masih tertahan di tengah ancaman blokade Amerika Serikat terhadap kapal tanker yang terkena sanksi.

Dikutip reuters.com, perusahaan minyak negara PDVSA kembali memuat minyak mentah dan bahan bakar pada Rabu setelah menghentikan operasi terminal sejak akhir pekan akibat serangan siber.

Meski pemuatan dilanjutkan, volume ekspor Venezuela masih jauh dari normal. Pengiriman minyak mentah turun tajam dari lebih 900.000 barel per hari pada November, menyusul penyitaan kapal tanker yang terkena sanksi oleh AS pekan lalu. Banyak operator memilih menahan kapal di perairan Venezuela karena khawatir akan disita jika berlayar menuju China, tujuan utama ekspor minyak negara tersebut.

Situasi semakin rumit setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana blokade terhadap seluruh kapal tanker bersanksi yang masuk dan keluar dari perairan Venezuela. Hingga kini, belum jelas bagaimana blokade tersebut akan diterapkan.

Di tengah ketegangan itu, Chevron tetap melanjutkan pengiriman minyak Venezuela ke Amerika Serikat. Perusahaan minyak asal AS tersebut masih memuat kargo berkat izin khusus dari Washington, meski Venezuela berada di bawah sanksi. Chevron merupakan mitra usaha patungan PDVSA.

Data pelacakan menunjukkan tidak semua kapal tanker di Venezuela terkena sanksi. Dari sekitar 80 kapal di perairan negara itu, sekitar 30 di antaranya tercatat masuk daftar sanksi. Namun, sekitar 15 juta barel minyak Venezuela kini tertahan di atas kapal. Kondisi ini mendorong pembeli dan pengirim meminta diskon harga serta perubahan kontrak guna mengompensasi risiko pengiriman.

PDVSA menyatakan ekspor dan impor minyak telah kembali normal dan armada tankernya beroperasi tanpa gangguan. Namun, data pelayaran menunjukkan hanya produk turunan minyak seperti metanol dan petroleum coke yang keluar dari Venezuela, sementara ekspor minyak mentah masih sangat terbatas.

Pemerintah Venezuela mengecam rencana blokade AS sebagai “ancaman yang menjijikkan” dan menilai langkah tersebut melanggar hukum internasional serta kebebasan navigasi. Presiden Nicolas Maduro menuding pengerahan militer AS di kawasan bertujuan menggulingkan pemerintahannya dan menguasai sumber daya minyak Venezuela.

Selain tekanan geopolitik, PDVSA juga masih memulihkan operasionalnya dari serangan ransomware yang memaksa perusahaan mengisolasi sistem pusat. Sejumlah aktivitas administrasi kini dilakukan secara manual untuk mencegah penghentian ekspor yang lebih lama.

Ketegangan AS–Venezuela turut berdampak pada impor nafta berat Venezuela dari Rusia, yang dibutuhkan untuk mencairkan minyak ekstra berat. Beberapa kapal pengangkut nafta dilaporkan berbalik arah guna menghindari risiko blokade.(DH)