PM Kanada Mark Carney: Negosiasi gagal, Kanada siap balas tarif AS

Sabtu, 25 Juli 2026

image

OTTAWA - Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menegaskan bahwa pemerintahnya siap mengambil langkah apa pun untuk melindungi kepentingan nasional dalam perang dagang dengan Amerika Serikat, termasuk menerapkan tarif balasan jika diperlukan.

Seperti dikutip Reuters, pernyataan tersebut disampaikan Carney dalam pertemuan dengan para kepala pemerintahan provinsi di Charlottetown, Prince Edward Island, Kamis (23/7), setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif baru terhadap berbagai produk asal Kanada.

Trump pada Senin (20/7/2026) mengumumkan tarif sebesar 50% untuk sejumlah produk Kanada yang akan mulai berlaku pada 19 Agustus 2026.

"Kami mempercepat perundingan dagang dengan Amerika Serikat dan tidak akan ragu membela kepentingan kami jika diperlukan," kata Carney. Ia menilai kebijakan tarif terbaru AS tidak memiliki dasar yang dapat dibenarkan.

Carney menegaskan seluruh opsi masih terbuka apabila kedua negara gagal mencapai kesepakatan. Namun, ia tidak menjelaskan bentuk langkah balasan yang tengah dipertimbangkan pemerintah.

Pekan ini, Trump dan Carney sepakat mempercepat negosiasi perdagangan bilateral.

Pembicaraan tersebut berlangsung setelah Trump pada 1 Juli 2026 memutuskan tidak memperpanjang masa berlaku Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA) untuk periode 16 tahun berikutnya. Meski demikian, perjanjian itu tetap berlaku dan akan ditinjau kembali setiap tahun.

Saat ini, Washington tengah melakukan perundingan secara terpisah dengan Kanada dan Meksiko. Pemerintah AS juga menyebut pembicaraan dengan Meksiko menunjukkan kemajuan yang lebih baik.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa Washington dapat menekan Kanada agar memberikan konsesi yang serupa dengan yang kemungkinan disepakati Meksiko.

Carney mengatakan pemerintahnya menginginkan kesepakatan dagang yang komprehensif, bukan perjanjian yang hanya mencakup sektor-sektor tertentu.

Meski Carney menyebut pemerintah federal dan seluruh provinsi memiliki tujuan yang sama, terdapat perbedaan pandangan mengenai bentuk respons terhadap kebijakan AS.

Provinsi Alberta dan Saskatchewan, yang masing-masing mengekspor minyak mentah dan potash ke Amerika Serikat, menolak pembatasan ekspor ataupun penerapan bea ekspor sebagai alat untuk menekan Washington.

Sementara itu, Premier Ontario, Doug Ford, meminta Kanada membalas tarif AS dengan besaran yang sama.

"Kita harus membalas dolar demi dolar," kata Ford. Meski demikian, ia mengakui Carney berada dalam posisi yang sulit.

"Suatu hari Perdana Menteri berdiri berdampingan dengannya. Keesokan harinya Presiden Trump justru berbalik menyerangnya habis-habisan," ujar Ford.

Di sisi lain, Premier British Columbia, David Eby, mengusulkan pembatasan akses AS terhadap ekspor mineral kritis dari provinsinya, termasuk tembaga, seng, dan aluminium.

"Jika Perdana Menteri meminta dukungan British Columbia untuk membawa instrumen yang lebih kuat ke meja perundingan, kami siap membantu," kata Eby. (ARF)

 

 

 

 

 

 

 

 

OTTAWA - Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menegaskan bahwa pemerintahnya siap mengambil langkah apa pun untuk melindungi kepentingan nasional dalam perang dagang dengan Amerika Serikat, termasuk menerapkan tarif balasan jika diperlukan.

Seperti dikutip Reuters, pernyataan itu disampaikan Carney dalam pertemuan dengan para kepala pemerintahan provinsi di Charlottetown, Prince Edward Island, Kamis (23/7), setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif baru terhadap berbagai produk asal Kanada.

Trump pada Senin (20/7) mengumumkan tarif sebesar 50% untuk sejumlah produk Kanada yang akan mulai berlaku pada 19 Agustus 2026.

"Kami mempercepat perundingan dagang dengan Amerika Serikat dan tidak akan ragu membela kepentingan kami jika diperlukan," kata Carney. Ia menyebut kebijakan tarif terbaru AS tidak memiliki dasar yang dapat dibenarkan.

Carney menegaskan seluruh opsi masih terbuka apabila kedua negara gagal mencapai kesepakatan. Namun, ia tidak menjelaskan bentuk langkah balasan yang tengah dipertimbangkan pemerintah.

Pekan ini, Trump dan Carney sepakat untuk mempercepat negosiasi perdagangan bilateral.

Pembicaraan berlangsung setelah Trump memutuskan pada 1 Juli 2026, untuk tidak memperpanjang Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA) selama 16 tahun berikutnya. Perjanjian tersebut tetap berlaku, tetapi akan ditinjau kembali setiap tahunnya.

Saat ini, Washington tengah melakukan perundingan secara terpisah dengan Kanada dan Meksiko. Pemerintah AS juga menyebut bahwa pembicaraan dengan Meksiko menunjukkan kemajuan yang lebih baik.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa Washington dapat menekan Kanada agar memberikan konsesi yang sama seperti yang mungkin disepakati oleh Meksiko.

Carney mengatakan bahwa pemerintahnya menginginkan kesepakatan dagang yang menyeluruh, bukan perjanjian yang hanya mencakup beberapa sektor tertentu.

Meski Carney menyebut bahwa pemerintah federal dan seluruh provinsi memiliki tujuan yang sama, terdapat perbedaan pandangan mengenai bentuk respons terhadap kebijakan AS.

Provinsi Alberta dan Saskatchewan, yang masing-masing mengekspor minyak mentah dan potash ke Amerika Serikat, menolak pembatasan ekspor maupun pengenaan bea ekspor sebagai alat untuk menekan Washington.

Sementara itu, Perdana Menteri Ontario, Doug Ford, meminta Kanada untuk membalas tarif AS dengan besaran yang sama.

"Kita harus membalas dolar demi dolar," kata Ford. Meski demikian, ia mengakui bahwa Carney berada dalam posisi yang sulit.

"Suatu hari Perdana Menteri berdiri berdampingan dengannya. Keesokan harinya, Presiden Trump justru berbalik menyerangnya seperti anjing gila," ujar Ford.

Di sisi lain, Perdana Menteri British Columbia, David Eby, mengusulkan pembatasan akses AS terhadap ekspor mineral kritis dari provinsinya, termasuk tembaga, seng, dan aluminium.

"Jika Perdana Menteri meminta dukungan British Columbia untuk membawa instrumen yang lebih kuat ke meja perundingan, kami siap membantu," kata Eby. (ARF)