Indonesia akan pangkas produksi nikel di 2026, jaga stabilitas harga?

Jumat, 19 Desember 2025

image

JAKARTA - Indonesia, produsen nikel terbesar dunia, berpotensi memangkas produksi hingga sepertiga pada 2026 guna menahan tekanan penurunan harga.

Dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2026, pemerintah mengusulkan pengurangan produksi sebesar 34% dari realisasi tahun ini menjadi sekitar 250 juta ton tahun depan.

Seperti dikutip mining.com, Rabu (17/12), informasi tersebut dilaporkan Shanghai Metals Market (SMM), mengutip Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI).

Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin Lengkey menyatakan target tersebut masih berupa rencana di tingkat pemerintah, sementara detail implementasinya belum ditetapkan.Upaya pengendalian produksi dinilai berkaitan dengan penurunan kadar bijih nikel.

CEO Canada Nickel Mark Selby mengatakan, kualitas dan kimia bijih yang menurun mendorong Indonesia mengimpor bijih dari Filipina dalam jumlah pasokan yang tidak tak terbatas. Kondisi ini membuka ruang bagi Indonesia untuk mendorong pemulihan harga nikel ke kisaran US$18.000–US$20.000 per ton.

Harga nikel sendiri telah turun sekitar 7% menjadi US$14.376 per ton dalam setahun terakhir, setelah sempat melonjak tajam ke US$48.078 per ton pada Maret 2022 usai invasi Rusia ke Ukraina. Harga kemudian sempat naik lagi ke sekitar US$21.615 per ton pada Mei 2024 sebelum kembali merosot sekitar 34% ke level saat ini.

Meski demikian, analis BMO Capital Markets Helen Amos memproyeksikan pasar nikel masih akan surplus 240.000 ton tahun depan, bahkan jika target produksi Indonesia dipangkas signifikan dan perusahaan tambang mematuhi kebijakan tersebut.

Sementara itu, raksasa nikel Rusia Nornickel memperkirakan kelebihan pasokan yang lebih besar, yakni 275.000 ton pada 2026, setelah surplus 240.000 ton tahun ini. Proyeksi tersebut disampaikan sebelum pengumuman APNI.

Data United States Geological Survey (USGS) menunjukkan Indonesia memproduksi 2,2 juta ton nikel pada 2024. Filipina berada di posisi kedua dengan 330.000 ton, disusul Rusia 210.000 ton.

Sebagian besar produksi Asia Tenggara berasal dari nikel laterit, yang biaya awal penambangannya lebih rendah namun boros energi dan berdampak lingkungan besar. Sebaliknya, nikel sulfida, yang ditambang di Kanada, Rusia, dan Afrika Selatan, memiliki jejak energi dan lingkungan lebih rendah.

Investor senior Rick Rule menilai tingginya biaya lingkungan penambangan nikel laterit tidak berkelanjutan. Menurutnya, jika penambangan dilakukan secara bertanggung jawab, kurva biaya akan meningkat signifikan.

Di Kanada, proyek Crawford milik Canada Nickel dekat Sudbury, Ontario, disebut memiliki cadangan dan sumber daya nikel terbesar kedua di dunia dan telah dirujuk ke Kantor Proyek Strategis Pemerintah Federal untuk kemungkinan percepatan perizinan. (DK)