Beralih ke industri batu bara sejak 2023, ini prospek 5 tambang SINI
Sabtu, 25 Juli 2026
JAKARTA – PT Singaraja Putra Tbk (SINI) pada awalnya hanya berfokus pada bisnis akomodasi, mengelola Imperial Singaraja Hostel, sebelum merambah ke industri kayu melalui PT Interkayu Nusantara.
Kini, SINI mulai merambah ke bisnis tambang batu bara sejak mengakuisisi PT Dwi Daya Swakarya (DDS) pada kuartal III 2023.
Dari akuisisi ini, SINI mengelola empat proyek tambang melalui PT Persada Kapuas Prima (PKP), PT Pasir Bara Prima (PBP), PT Pesona Bara Cakrawala (PBC), dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP).
PBP dan PKP telah beroperasi secara komersial pada 2024 dan 2025, dan telah menjadi salah satu pilar pendapatan SINI.
Pada tahun 2024 lalu, SINI mencatatkan pendapatan perdana dari segmen batu baranya sebesar Rp7,72 miliar.
Kontribusi segmen tersebut kemudian meroket 20 kali lipat pada tahun 2025, mencapai Rp155,28 miliar – atau sekitar 29,08% pendapatan Perseroan.
Pada 2026, Perseroan memperlebar operasinya dengan mengakuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), anak usaha PT Petrosea Tbk (PTRO).
Proyek eksisting: PKP dan PBPBerdasarkan siaran resmi Perseroan, PBP menargetkan produksi batu bara dengan kualitas 5.000 GAR hingga 26 juta ton sepanjang periode tambang 9 tahun, dari 2024 sampai 2032.
Produksi ini menghasilkan potensi pendapatan hingga US$1,95 miliar atau sekitar Rp30 triliun, mengacu pada harga batu bara dan kurs Rp15.500 pada 2024.
Sementara itu, target produksi PKP lebih besar lagi, mencapai 60 juta ton sepanjang usia tambang 9 tahun (2025-2033).
Berdasarkan harga batu bara dan kurs pada Juni 2025, proyek tambang PKP memberikan potensi pendapatan hingga US$2,64 miliar, atau setara dengan Rp43 triliun.
Hingga akhir Juni 2026, PBP telah memproduksi 29.150 MT batu bara, dan mencatat penjualan 27.579 MT, sedangkan produksi PKP mencapai 225.643 MT dan penjualan 221.426 MT.
Proyek mendatang: PBC dan CBPSelain proyek eksisting PBP dan PKP, SINI juga baru meneken kontrak jasa pertambangan terbaru dengan pemegang sahamnya, PTRO, untuk mulai mengerjakan proyek tambang PBC dan CBP.
Seperti yang telah diberitakan IDNFinancials, PBC memiliki estimasi volume produksi batu bara berkualitas 4200 GAR sebesar 42 juta ton, dengan potensi pendapatan hingga US$2,6 miliar, atau Rp45,6 triliun sepanjang usia tambang.
Untuk tambang CBP, SINI menargetkan estimasi total pendapatan hingga US$656 juta atau Rp11,5 triliun, dari produksi batu bara kalori GAR 5000 sebesar 8 juta ton.
Dalam keterangan kepada Bursa Efek Indonesia, Selasa (21/7), SINI memproyeksikan PBC beroperasi komersial mulai kuartal IV tahun 2026, dan disusul oleh CBP pada kuartal IV tahun 2027, mengingat keduanya masih dalam tahap proses pembangunan jalan angkut.
Proyek terbaru: KMSTak hanya melalui PBC dan CBP, SINI juga akan mulai membukukan pendapatan dari proyek tambang KMS, anak usaha pemegang sahamnya, PTRO. SINI mengakuisisi KMS dengan harga Rp1,73 triliun usai meraup dana segar dari rights issue Rp3,61 triliun.
KMS sendiri memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi melalui anak usahanya, PT Cristian Eka Pratama (CEP), yang berlaku hingga 2038.
“Keberadaan KMS diharapkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan produksi Perseroan ke depan,” ujar manajemen SINI dalam suratnya kepada BEI, Selasa (21/7).
Pasalnya, SINI memproyeksikan produksi tambang batu bara pada konsesi KMS bertingkat secara bertahap, mulai dari 1 juta ton, kemudian 3,6 juta ton, dan produksi optimal di level 5 juta ton per tahun.
“Target pendapatan KMS adalah sebesar US$52 juta pada tahun 2026 dan US$158,97 juta pada tahun 2027, dengan kontribusi pendapatan mencapai 21,40% dan 27,06% bagi Perseroan,” ungkap manajemen lebih lanjut.
Target operasional dan keuangan SINIPada tahun 2026 ini, didorong ekspansi segmen batu baranya, SINI menargetkan total pendapatan Rp3,21 triliun, enam kali lipat lebih tinggi dari realisasi pendapatan SINI per 2025 sebesar Rp534,02 miliar.
Peningkatan pendapatan ini akan ditopang target penjualan batu bara SINI, yang berdasarkan RKAB 2026, tercatat sebesar 1,8 juta ton.
Di bottom line, SINI menargetkan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp200,30 miliar pada 2026 – yang berarti Perseroan menargetkan margin 6,25%.
Sebagai perbandingan, SINI masih mencatatkan rugi Rp41,21 miliar pada akhir 2025 lalu.
“Untuk proyeksi tersebut, dikarenakan di 2026 ini kontribusi dari penjualan batubara itu sudah menjadi faktor yang dominan didalam Perseroan … Kerugian tersebut bukan dikarenakan beban biaya operasional melainkan karena beban bunga dari pinjaman bank,” ujar manajemen dalam Paparan Publik Mei lalu. (ZH)