Risiko carry trade Jepang bayangi IHSG jelang rapat BOJ

Jumat, 19 Desember 2025

image

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menghadapi tekanan lanjutan pada perdagangan Jumat, seiring sikap investor yang lebih berhati-hati menjelang pertemuan Bank of Japan (BOJ).

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sinyal teknikal pada IHSG masih mengindikasikan koreksi lanjutan setelah melemah 0,68% pada Kamis (18/12) kemarin di 8.618,2.

Analis Phintraco Sekuritas menyampaikan pelemahan rupiah terus berlanjut, meskipun BI Rate tetap bertahan di 4,75% dalam rapat dewan gubernur bulan ini. Pelemahan ini terjadi saat indeks dolar AS (DXY) menguat.

Dari sisi teknikal, analis Phintraco mencatat pelebaran histogram negatif MACD pada IHSG dan Stochastic RSI kembali membentuk death cross mendekati area oversold.

“Namun [IHSG] ditutup di bawah MA5, namun masih bertahan di atas MA20. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang indeks melanjutkan pelemahan untuk menguji area support 8.550–8.600,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan hari ini.

Selain itu, analis Phintraco menyampaikan fokus pasar global akan mengarah pada hasil pertemuan Bank of Japan (BOJ), yang diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,75%.

Kenaikan suku bunga Jepang itu juga dinilai akan meningkatkan volatilitas pasar global, dari investor yang banyak mengandalkan pendanaan murah dari Jepang untuk dibawa ke negara lain, yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Strategi ini kerap dikenal dengan istilah carry trade.

“Kenaikan suku bunga Jepang berpotensi membuat investor yang melakukan carry trade tersebut menutup posisi pinjamannya, sehingga akan meningkatkan volatilitas pasar global karena arus dana kembali ke Jepang,” jelas analis Phintraco.

Meskipun demikian, analis Phintraco memperkirakan risiko carry trade Jepang hanya bersifat jangka pendek. (KR)