Capex SGRO tembus Rp230 miliar, produksi dan pendapatan melonjak
Jumat, 19 Desember 2025

JAKARTA - PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) telah merealisasikan belanja modal sebesar Rp230 miliar hingga September 2025. Jumlah tersebut merupakan bagian dari anggaran capex perusahaan tahun ini yang dipatok di kisaran Rp400 miliar–Rp500 miliar.
Direktur Sampoerna Agro, Heri Harjanto, menyampaikan bahwa realisasi capex hingga akhir tahun diperkirakan akan mendekati batas bawah anggaran.
“Kami mungkin akan bisa merealisasikan capex sekitar Rp 400 miliar sampai akhir tahun ini,” ujarnya dalam paparan public SGRO, Kamis (18/12).
Sementara itu, perseroan belum mengungkapkan secara rinci besaran capex untuk 2026 karena masih dalam proses finalisasi. Meski demikian, manajemen memberi sinyal belanja modal tahun depan berpotensi lebih besar dibandingkan 2025.
“(Capex) tahun depan akan lebih besar dari tahun ini. Namun, angkanya masih kami finalisasi, jadi belum bisa kami sampaikan,” tutur Heri.
Dari sisi operasional, SGRO menargetkan pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit (CPO) dan tandan buah segar (TBS) pada 2026 di kisaran 3%–5%. Direktur Utama SGRO, Budi Setiawan Halim, mengatakan target tersebut masih dalam tahap penyusunan. “Namun, mungkin tumbuh di kisaran 3-5% tahun depan,” ujarnya.
Kinerja produksi pada kuartal III 2025 menunjukkan perbaikan signifikan seiring meredanya dampak El Nino yang sebelumnya menekan produksi. Total produksi TBS meningkat menjadi 1,2 juta ton. Produksi TBS dari kebun inti tercatat 846.810 ton, sementara pasokan dari plasma dan pihak ketiga mencapai 402.820 ton.
Secara wilayah, produksi TBS dari Sumatra mencapai 676.226 ton, sedangkan Kalimantan juga mencatatkan peningkatan produksi. Kenaikan pasokan TBS tersebut mendorong produksi CPO menjadi 248.022 ton dengan tingkat ekstraksi minyak tetap stabil di 20,8%. Produksi palm kernel juga meningkat menjadi 62.124 ton.
Dari sisi keuangan, hingga September 2025, pendapatan SGRO melonjak menjadi Rp4,6 triliun. Pendapatan dari penjualan CPO mencapai Rp3,5 triliun, ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata menjadi Rp14.457 per kilogram serta volume penjualan yang lebih tinggi.
Sementara itu, pendapatan dari palm kernel sebagai kontributor terbesar kedua juga meningkat tajam, seiring lonjakan harga jual rata-rata menjadi Rp12.495 per kilogram dan kenaikan volume produksi.(DH)