Peran Jepang dan China turun, kini siapa yang biayai defisit Amerika?

Senin, 27 Juli 2026

image

JAKARTA - Arus modal asing yang deras ke pasar saham Amerika Serikat (AS) di tengah ledakan investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini menjadi penopang utama defisit transaksi berjalan (current account deficit) negara tersebut.

Namun, pergeseran sumber pendanaan dari bank sentral ke investor swasta memunculkan risiko baru terhadap stabilitas ekonomi AS.

Seperti dikutip Reuters, dalam beberapa tahun terakhir, investor global menggelontorkan triliunan dolar AS ke Wall Street untuk memanfaatkan lonjakan valuasi perusahaan teknologi yang dipicu revolusi AI.

Aliran modal tersebut membantu membiayai defisit transaksi berjalan AS yang kini melebar hingga mendekati 4% terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dibandingkan periode sebelum pandemi.

Defisit transaksi berjalan mencerminkan selisih antara nilai impor barang, jasa, dividen, bunga, dan pendapatan lainnya dengan ekspor yang dilakukan AS.

Selama beberapa dekade, negara itu bergantung pada pembelian aset keuangan oleh investor asing untuk menutup kekurangan tersebut.

Pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya mempersempit defisit melalui berbagai kebijakan, mulai dari tarif impor, pembatasan imigrasi hingga dorongan investasi domestik.

Namun, efektivitas langkah tersebut masih menjadi tanda tanya karena defisit perdagangan barang dan jasa tetap bertahan di kisaran 3% terhadap PDB.

Bagi ekonomi AS yang bernilai sekitar US$31 triliun, kebutuhan terhadap arus modal asing menjadi krusial. Tanpa masuknya dana dari luar negeri, dolar AS berisiko melemah dan imbal hasil obligasi pemerintah dapat melonjak.

Meski demikian, komposisi pendanaan kini berubah drastis dibandingkan dua dekade lalu. Jika sebelumnya defisit lebih banyak dibiayai oleh bank sentral negara-negara seperti China dan Jepang melalui pembelian obligasi pemerintah AS (US Treasury), kini peran tersebut semakin diambil alih investor swasta yang mengejar imbal hasil lebih tinggi di pasar saham.

Pada 2004, kepemilikan resmi Jepang atas Treasury AS mencapai sekitar 18% dari total utang pemerintah yang dimiliki publik, sedangkan China menguasai sekitar 14% pada 2010.

Kini, porsi tersebut turun menjadi kurang dari 4% untuk Jepang dan sekitar 2% untuk China.

Sebaliknya, minat investor asing terhadap saham AS terus meningkat. Pada 2010, sekitar sepertiga aset keuangan AS yang dimiliki investor asing berbentuk saham, sementara 22% berada di Treasury.

Pada kuartal I tahun ini, porsi saham melonjak menjadi 61%, sedangkan Treasury menyusut menjadi hanya 14%.

Kepemilikan asing atas saham AS juga mencetak rekor sekitar 18%, hampir dua kali lipat dibandingkan pertengahan dekade 2000-an. Tren tersebut mencerminkan meningkatnya daya tarik perusahaan-perusahaan teknologi raksasa yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi AS.

"Bank sentral cenderung menjadi investor dengan strategi 'beli dan simpan' (buy and hold). Bank sentral biasanya mengutamakan keamanan, likuiditas, baru kemudian imbal hasil. Dalam urutan itulah prioritasnya," kata Profesor Ekonomi Universitas Cornell, Eswar Prasad.

"Bagi investor swasta, urutannya agak terbalik mereka lebih mengutamakan imbal hasil dan likuiditas, sementara faktor keamanan menjadi prioritas yang sedikit lebih rendah," lanjutnya.

Perubahan karakter investor tersebut dinilai meningkatkan kerentanan apabila pasar saham AS mengalami koreksi tajam atau muncul peluang investasi yang lebih menarik di negara lain. Berbeda dengan bank sentral yang cenderung mempertahankan investasinya dalam jangka panjang, investor swasta lebih cepat memindahkan modal demi mengejar keuntungan.

Di sisi lain, sejumlah analis menilai dominasi perusahaan teknologi justru memperkuat daya tarik aset AS. Raksasa teknologi seperti Apple dan Microsoft bahkan memiliki peringkat kredit AAA, lebih tinggi dibandingkan pemerintah AS.

Banyak bank sentral dan sovereign wealth fund kini mulai meningkatkan eksposur ke saham-saham berkapitalisasi besar tersebut sebagai alternatif investasi selain Treasury.

Analis Deutsche Bank mencatat kesenjangan antara derasnya aliran dana ke saham AS dan melambatnya investasi ke obligasi pemerintah kini mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.

"Posisi fiskal AS melemah, sementara profitabilitas perusahaan AS semakin kuat," tulis analis Deutsche Bank.

"AI dapat mempercepat dinamika ini karena perusahaan menjadi lebih kaya dan tekanan redistributif pada pemerintah meningkat," ungkapnya.

Namun, ekspansi investasi AI juga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan AS. Kajian Federal Reserve menunjukkan lonjakan investasi teknologi biasanya diikuti peningkatan impor karena sebagian besar peralatan AI masih dipasok dari Asia Timur.

Di tengah kondisi tersebut, posisi investasi internasional bersih (Net International Investment Position/NIIP) AS terus memburuk. Data Bureau of Economic Analysis menunjukkan nilai kewajiban bersih AS terhadap investor asing kini mencapai sekitar US$21 triliun atau setara 70% PDB, melonjak tajam dibandingkan sekitar 10% PDB dua dekade lalu.

Meski demikian, dolar AS masih mempertahankan statusnya sebagai mata uang cadangan utama dunia dan pasar keuangan AS tetap menjadi tujuan utama investor global. Kendati risiko ketidakseimbangan eksternal semakin besar, dominasi Wall Street dalam sistem keuangan global sejauh ini belum tergantikan.(DH)