JETP: RI butuh US$31 miliar untuk transisi energi hingga 2030

Jumat, 19 Desember 2025

image

JAKARTA - Indonesia diperkirakan memerlukan investasi sekitar US$31 miliar hingga 2030 dan US$92 miliar hingga 2050 untuk mendukung transisi energi bersih di sektor pembangkit listrik captive, menurut laporan terbaru Just Energy Transition Partnership (JETP).

Sektor pembangkit listrik captive, yakni pembangkit yang dibangun industri untuk kebutuhan listrik sendiri, tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan ini menyusul tingginya permintaan kawasan industri nikel di Indonesia.

Seperti dikutip Reuter, Jumat (19/12), Sekretariat JETP Indonesia mencatat kapasitas pembangkit captive telah mencapai 25,9 gigawatt (GW) pada 2024, namun lebih dari 75% berbahan bakar batu bara.

Selain itu, sekitar 11 GW kapasitas tambahan saat ini berada dalam berbagai tahap pengembangan, yang sebagian besar juga akan menggunakan batu bara.

Investasi hingga 2030 akan fokus pada pengembangan energi terbarukan dan sistem penyimpanan baterai, dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan tenaga air sebagai kontributor utama.

Laporan tersebut juga merekomendasikan penggunaan gas sebagai bahan bakar transisi pada kondisi tertentu, peningkatan efisiensi sistem, serta penguatan integrasi energi terbarukan.

Dengan langkah-langkah tersebut, porsi energi terbarukan dalam pembangkit captive diproyeksikan meningkat dari 9% pada 2024 menjadi 34% pada 2030, lalu naik menjadi 55% pada 2040 dan lebih dari 80% pada 2050.

Implementasi ini diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon hingga 75% pada 2030 dibandingkan skenario dasar.

Sektor captive sebelumnya tidak termasuk dalam rencana dekarbonisasi Indonesia tahun 2023 di bawah kerangka JETP, sebuah inisiatif pendanaan yang didukung negara-negara G7 untuk membantu negara berkembang menekan emisi karbon.

Pada awal tahun ini, Amerika Serikat (AS) menarik diri dari kesepakatan JETP dengan Indonesia, Afrika Selatan, dan Vietnam.

Laporan JETP Captive Scenario bersifat tidak mengikat, namun umumnya disusun melalui koordinasi dengan pejabat pemerintah. Meski Indonesia, sebagai salah satu produsen batu bara terbesar dunia, telah memperoleh komitmen pendanaan lebih dari US$20 miliar melalui skema JETP, realisasi penyalurannya masih berjalan lambat.

JETP menekankan bahwa dana yang tersedia saat ini hanya mencakup sebagian kecil dari kebutuhan investasi. Oleh karena itu, JETP menilai keberhasilan transisi energi akan bergantung pada kemampuan Indonesia, dalam menghimpun pembiayaan yang jauh lebih besar dari berbagai sumber. (DK/KR)