ESSA tunda proyek bioavtur ESSA SAF Makmur

Senin, 27 Juli 2026

image

JAKARTA – PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), emiten migas milik kongsi Chander Vinod Laroya dan Garibaldi “Boy” Thohir, mengumumkan akan menangguhkan pengembangan proyek sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur.

Proyek bioavtur tersebut dijalankan oleh anak usaha ESSA, PT ESSA SAF Makmur (ESM), entitas yang didirikan pada Agustus 2024.

Berdasarkan data IDNFinancials, ESM dipersiapkan untuk merambah sektor produksi SAF, dengan produk utamanya berupa bioavtur atau bahan bakar pesawat yang dibuat dari minyak jelantah.

ESM diproyeksikan akan mulai membangun fasilitas produksi di Jawa Tengah pada 2026, dengan kapasitas sekitar 200.000 metrik ton (MT) per tahun, dan target operasi komersial pada kuartal I 2028 mendatang.

Per Mei 2025 lalu, proyek ini disebut telah mencapai tahap “studi kelayakan akhir dan finalisasi berbagai komponen utama, termasuk penerapan teknologi, pemilihan kontraktor EPC, penyediaan bahan baku, serta pengaturan offtake.”

Namun, manajemen ESSA menyatakan bahwa, berdasarkan evaluasi terhadap faktor strategis dan kondisi pasar terkini, proyek tersebut ditangguhkan, efektif mulai 27 Juli 2026.

Manajemen ESSA menegaskan bahwa penundaan pengembangan proyek tersebut bukan berarti bahwa Perseroan sepenuhnya membatalkan proyek SAF. Perseroan masih berkomitmen mengembangkan bisnis rendah karbon ke depannya.

“Akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi pasar, peluang bisnis, perkembangan teknologi, serta faktor-faktor strategis lainnya, guna menentukan waktu yang tepat untuk melanjutkan pengembangan Proyek SAF berdasarkan hasil evaluasi ESM,” tegas Shinta D.U. Siringoringo, Sr. Legal Manager & Corporate Secretary ESSA, dalam keterangan resmi, Senin (27/7).

Perseroan mengaku bahwa penangguhan proyek tidak berdampak material bagi operasional, hukum, dan keuangan ESSA.

“Keputusan tersebut merupakan bagian dari langkah strategis ESM dalam melakukan evaluasi atas pengembangan proyek, sehingga ESSA tetap memiliki fleksibilitas dalam mengelola alokasi modal,” lanjut Shinta.

Berdasarkan laporan keuangan terakhir ESSA per Maret 2026, ESSA memiliki ESM secara tidak langsung melalui PT ESSA Sustainable Indonesia (ESI), dengan kepemilikan 62%, dan total aset sebelum eliminasi sebesar US$12,05 juta.

Pemegang saham ESM lainnya adalah PT Cakra Sentosa Pertiwi Sukses dengan porsi 19%, diikuti PT Samudera Abadi Fortuna sebesar 18%, dan Pieter Tanuri 1%. (ZH)