Industri mineral AS belum siap hentikan impor dari China

Selasa, 28 Juli 2026

image

WASHINGTON — Target Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri ketergantungan Washington terhadap mineral kritis asal China mulai Januari 2027 menghadapi tantangan besar. Industri pertambangan dan pemurnian mineral di AS dinilai belum siap untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Dikutip dari Reuters, sejak kembali menjabat, Trump menjadikan pengembangan industri pertambangan dan pemurnian mineral kritis sebagai prioritas keamanan nasional.

Pemerintah AS telah menggelontorkan dana puluhan miliar dolar AS kepada hampir 150 perusahaan mineral untuk mengurangi dominasi China dalam rantai pasok bahan baku bagi industri pertahanan dan berbagai produk strategis.

Sesuai regulasi federal, industri pertahanan dan manufaktur AS memiliki waktu sedikit lebih dari lima bulan untuk menghentikan pembelian logam tanah jarang, magnet, tungsten, molibdenum, dan tantalum dari China, Rusia, Iran, maupun Korea Utara. Aturan tersebut akan mulai berlaku pada 1 Januari 2027.

Pemerintah AS sebenarnya telah lama berupaya membatasi impor mineral tersebut. Namun, berbagai perusahaan selama ini masih memperoleh pengecualian karena pasokan domestik belum mampu memenuhi permintaan.

Trump bahkan mengecam pemberian pengecualian tersebut melalui unggahan di platform Truth Social pada 10 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa seluruh lembaga federal wajib membeli produk buatan AS tanpa pengecualian.

Pekan lalu, Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang memperketat syarat bagi kontraktor pertahanan untuk memperoleh dispensasi.

Namun, hasil wawancara Reuters dengan 16 eksekutif industri, investor, analis, dan pembuat kebijakan menunjukkan bahwa kapasitas industri mineral AS masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Sebagai gambaran, kebutuhan AS terhadap magnet logam tanah jarang jenis yang paling umum diperkirakan mencapai sekitar 48.000 metrik ton pada 2025.

Sementara itu, pasokan dari produsen dalam negeri hanya sekitar 300 metrik ton, berdasarkan data konsultan Arthur D. Little.

Perusahaan-perusahaan AS diperkirakan baru mampu meningkatkan kapasitas produksi menjadi sekitar 5.000 metrik ton hingga akhir tahun ini.

Logam tanah jarang merupakan bagian dari sekitar 60 mineral yang dikategorikan sebagai mineral kritis oleh pemerintah AS.

Mineral tersebut harus melalui proses pemurnian sebelum diolah menjadi magnet yang digunakan dalam produksi senjata, kendaraan, komputer, serta berbagai produk industri lainnya.

AS bahkan belum memproduksi tungsten sejak 2015 dan tantalum sejak 1959. Guardian Metal Resources tengah mengembangkan tambang tungsten yang ditargetkan beroperasi pada 2028, sedangkan Lion Rock Resources mengembangkan tambang tantalum di South Dakota tanpa menetapkan jadwal operasional.

Analis sekaligus konsultan industri mineral Chris Berry menilai bahwa peluang AS untuk menghentikan pemberian dispensasi pada Januari tahun depan sangat kecil.

"Masih dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun infrastruktur yang diperlukan agar mampu bersaing," kata Berry.

AS sebenarnya memiliki cadangan sebagian besar mineral kritis. Kendala tersebut terletak pada keterbatasan kapasitas penambangan dan pemurnian. China mulai mendominasi industri pemurnian mineral sejak akhir abad ke-20 dan kini menguasai lebih dari 80% kapasitas sektor tersebut.

Badan Energi Internasional (IEA) bulan ini memperingatkan bahwa sekitar US$6,5 triliun nilai manufaktur global berisiko terganggu jika Beijing kembali membatasi ekspor logam tanah jarang. China telah beberapa kali menerapkan pembatasan ekspor tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Menanggapi hal tersebut, Gedung Putih merujuk pada perintah eksekutif Trump terkait pemberian dispensasi.

Aturan tersebut menyatakan bahwa dispensasi hanya dapat diberikan jika kontraktor membuktikan telah melakukan "upaya maksimal" untuk menghindari penggunaan material asal China serta memiliki rencana untuk menghentikan ketergantungan tersebut.

Departemen Pertahanan AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.

Investasi sektor logam tanah jarang di AS juga masih terhambat oleh rendahnya harga berbagai mineral dalam beberapa tahun terakhir.

Washington menilai kondisi tersebut dipicu oleh subsidi pemerintah China kepada produsennya yang membanjiri pasar dengan produk berharga murah, sehingga proyek-proyek di AS menjadi kurang menguntungkan secara finansial.

Pemerintah China berulang kali menyatakan telah mematuhi aturan perdagangan global Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan berupaya menjaga stabilitas pasar. Kedutaan Besar China di Washington juga tidak memberikan komentar tambahan.

Di sisi lain, Ucore Rare Metals, perusahaan rintisan pemurnian mineral yang didukung Departemen Pertahanan AS, mengembangkan teknologi pemurnian RapidSX.

Perusahaan mengklaim teknologi tersebut memiliki proses yang lebih cepat, lebih bersih, dan lebih murah dibandingkan dengan metode ekstraksi pelarut yang menjadi standar industri saat ini.

Ucore semula menargetkan untuk mulai melakukan pemurnian pada 2025. Namun, perusahaan mengubah rencana tersebut untuk menyesuaikan dengan kebutuhan Departemen Pertahanan AS.

CEO Ucore Pat Ryan mengatakan kepada Reuters bahwa sebagian produksi kini paling cepat baru akan dimulai pada 2027.

"Apakah seluruh rantai pasok bisa siap pada 2027? Itu akan menjadi perjuangan yang sangat berat," ujar Ryan.

Trump Bangun Cadangan Mineral

Pemerintahan Trump pada Februari lalu meluncurkan Project Vault, program senilai US$12 miliar untuk membangun cadangan mineral kritis bagi industri manufaktur AS.

Namun, pemerintah mengakui pada April 2026 bahwa cadangan tersebut masih harus diisi menggunakan mineral dari berbagai negara, termasuk China.

CEO Lockheed Martin, Jim Taiclet, mengatakan bahwa perusahaannya telah menyerahkan daftar mineral yang ingin dimasukkan ke dalam cadangan strategis kepada Departemen Pertahanan AS. Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah konferensi pada awal bulan ini.

Kebijakan tersebut menuai kritik dari pelaku industri mineral di AS. Mereka menilai pemerintah seharusnya mendorong kontraktor pertahanan membeli mineral dari produsen dalam negeri, bukan terus mengandalkan pasokan impor untuk mengisi cadangan strategis.

"Kontraktor pertahanan selama ini menganggap mereka akan selalu bisa membeli produk dari China," jelas CEO Phoenix Tailings, Nick Myers.

Phoenix Tailings, perusahaan rintisan pemrosesan mineral yang berbasis di Massachusetts, bulan lalu memperoleh pinjaman US$500 juta dari Departemen Pertahanan AS untuk membangun fasilitas pemurnian mineral.

"Industri pertahanan tidak akan pernah lepas dari ketergantungan itu jika pemerintah terus memberikan dispensasi," ujar Myers.

Reuters telah meminta tanggapan kepada Boeing, General Dynamics, Huntington Ingalls Industries, Northrop Grumman, dan RTX. Hingga berita ini ditulis, kelima perusahaan tersebut belum memberikan respons, sementara L3Harris Technologies menolak berkomentar.

Kompleksitas proses pemurnian mineral masih menjadi kendala utama bagi pengembangan industri mineral kritis di AS.

Samantha Carl-Yoder dari firma hukum dan lobi Brownstein Hyatt Farber Schreck mengatakan bahwa kemitraan dengan Korea Selatan, Jepang, dan negara sekutu lainnya dapat menjadi solusi sementara.

Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan produsen hingga kapasitas pemasok di AS meningkat.

Salah satu pemain terbesar di sektor ini, MP Materials, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyempurnakan peralatan pemurnian berbasis ekstraksi pelarut. CEO MP Materials, Jim Litinsky, menggambarkan bahwa proses tersebut sebagai pekerjaan yang "sangat rumit dan memerlukan ketelitian tinggi."

MP Materials telah membangun fasilitas produksi magnet di Texas. Perusahaan memperkirakan bahwa magnet pertamanya akan mendapat persetujuan untuk digunakan oleh pelanggan perdananya, General Motors, sebelum akhir tahun ini.

Perusahaan juga tengah membangun fasilitas produksi magnet lain untuk Departemen Pertahanan AS. Fasilitas tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada 2028.

Di Marion, Indiana, ReElement Technologies berencana memproses mineral menggunakan teknologi kromatografi yang lazim digunakan di industri farmasi. Namun, teknologi tersebut belum pernah diterapkan untuk memproses mineral dalam skala besar.

ReElement menargetkan memiliki kapasitas untuk memproses hingga 10.000 metrik ton germanium atau mineral lainnya pada tahun ini. CEO ReElement Mark Jensen menyatakan produksi germanium perusahaannya tetap menguntungkan berapa pun volumenya.

Awal bulan ini, ReElement juga memperoleh investasi senilai US$25 juta dari Departemen Pertahanan AS.

Sementara itu, USA Rare Earth telah menghabiskan lebih dari lima tahun untuk mempelajari teknologi kromatografi sebelum akhirnya beralih ke metode ekstraksi pelarut, menurut seorang sumber yang mengetahui strategi perusahaan tersebut.

USA Rare Earth saat ini membangun fasilitas produksi magnet di South Carolina. Namun, perusahaan menolak memberikan komentar mengenai riset teknologi pemurniannya.

Di sisi lain, Energy Fuels yang bulan lalu memperoleh pinjaman US$725 juta dari Departemen Pertahanan AS menargetkan untuk mulai memproses logam tanah jarang dalam jumlah terbatas pada akhir tahun ini. Kapasitas produksinya ditargetkan meningkat menjadi 6.000 metrik ton per tahun pada 2029.

Perusahaan tersebut juga sedang mengakuisisi produsen magnet yang telah beroperasi di AS.

Ucore, Energy Fuels, dan ReElement masing-masing telah menandatangani kesepakatan untuk memasok logam tanah jarang kepada Vulcan Elements. Perusahaan itu tengah membangun pabrik magnet di North Carolina yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2030. (ARF)