Utang untuk AI meroket, ambisi Larry Ellison terancam bumerang

Jumat, 19 Desember 2025

image

JAKARTA – Larry Ellison, pendiri Oracle yang kini berusia 81 tahun, tengah mempertaruhkan masa depan perusahaannya dalam perang infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang diprediksi akan menjadi bumerang pada tahun 2026.

Strategi agresif Ellison untuk mematahkan dominasi cloud Microsoft dan Google dinilai berisiko tinggi terhadap kesehatan finansial perusahaan.

Seperti dilansir dari Reuters Breakingviews (18/12), ambisi Oracle memicu lonjakan belanja modal (capital expenditure) yang tidak berkelanjutan. Estimasi Visible Alpha menunjukkan belanja modal Oracle akan meroket hampir 70% menjadi US$35 miliar (sekitar Rp556 triliun) pada tahun fiskal yang berakhir Mei 2026.

Angka ini setara dengan lebih dari separuh total pendapatan perusahaan, sebuah rasio yang jauh lebih boros dibandingkan Microsoft yang hanya mengalokasikan sekitar 30% pendapatannya untuk belanja modal.

Kecemasan pasar terpusat pada kesepakatan lima tahun senilai US$300 miliar dengan OpenAI. Analis menilai nilai kontrak ini sulit divaluasi secara wajar mengingat pendapatan pembuat ChatGPT tersebut baru berada di jalur US$20 miliar pada 2025 dengan kondisi burn rate yang masif.

Sentimen negatif mulai menggerogoti pasar; lonjakan saham 35% pada September telah lenyap sepenuhnya dua bulan kemudian seiring sorotan pada total utang Oracle yang mencapai US$90 miliar terbesar keempat di antara konstituen Indeks S&P 500.

Biaya proteksi gagal bayar (CDS) Oracle bahkan dilaporkan meningkat tiga kali lipat mencapai hampir 140 basis poin per awal Desember.

Risiko solvabilitas kian nyata dengan proyek infrastruktur "Stargate". Analis Morgan Stanley memproyeksikan utang bersih Oracle dapat membengkak tiga kali lipat menjadi sekitar US$300 miliar pada Mei 2028.

Dengan peringkat kredit yang sudah berada dalam outlook negatif oleh S&P Global dan valuasi harga saham yang mahal di 25 kali estimasi laba ke depan, Oracle diprediksi akan menjadi raksasa teknologi pertama yang terpaksa memangkas belanja modalnya ketika realitas finansial menghantam, menyingkap bahwa ekspansi AI mereka dibangun di atas fondasi yang rapuh. (SF)