TPIA siap tawarkan obligasi Rp1,5 triliun awal tahun 2026
Jumat, 19 Desember 2025

JAKARTA – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap I Tahun 2025 sebesar Rp1,5 triliun dalam tiga seri, yang diproyeksikan berlangsung pada 5-8 Januari 2025.
Berdasarkan prospektus singkat di Bursa Efek Indonesia (BEI), instrumen ini merupakan bagian dari Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan V dengan total target Rp6 triliun.
Masih dalam tahap penawaran awal, detail mengenai jumlah tiap seri obligasi ini belum diungkapkan kepada publik. Namun, tiga seri tersebut akan memiliki tenor berbeda-beda, mulai dari 3, 5, dan 7 tahun.
TPIA juga belum menentukan bunga tetap per tahun tiap seri obligasi tersebut. Namun, Perseroan menegaskan bahwa bunga akan dibayarkan tiap tiga bulan, dengan pembayaran pertama dijadwalkan pada 13 April 2026 mendatang.
Menurut prospektus, TPIA akan mengalokasikan dana hasil penerbitan obligasi ini untuk keperluan modal kerja Perseroan. "Termasuk di antaranya, pembelian bahan baku produksi untuk kegiatan usaha,” tambah manajemen.
Sebgai catatan, di wilayah operasinya di Indonesia, TPIA masih terus membangun pabrik CA-EDC di Cilegon, Banten, yang sudah mencapai 33% pada September 2025 lalu, dan ditargetkan rampung pada 2027 mendatang.
Namun, di Singapura, TPIA tengah memfokuskan pengembangan fasilitas produksi di Pulau Jurong dan Bukom melalui usaha patungannya bersama Glencore, Aster.
Terbaru, Chandra Asri juga akan mengambil alih jaringan stasiun pengisian bahan bakar Esso, dan telah mendapat pendanaan US$750 miliar – atau Rp12,5 triliun – dari KKR untuk mendanai aksi akuisisi besar-besaran tersebut.
Berdasarkan data neraca keuangan, TPIA sudah membukukan liabilitas US$5,92 miliar hingga akhir Juni 2025 – atau setara dengan Rp96,10 triliun, dengan kurs Rp16.233/US$.
Total asetnya hingga semester I 2025 mencapai US$10,68 miliar, dengan kas dan setara kas US$2,68 miliar, sedangkan ekuitas hanya sebesar US$4,77 miliar.
Hal ini membawa rasio liabilitas terhadap ekuitas TPIA ke level 1 – jauh lebih tinggi dari rata-rata industri di level 0,7. (ZH)