China minta Amerika cabut tarif impor terkait dugaan kerja paksa
Selasa, 28 Juli 2026
BEIJING — China mendesak Amerika Serikat (AS) untuk mencabut tarif atas produk asal negara China yang dikenakan terkait dugaan penggunaan kerja paksa. Beijing menilai kebijakan tersebut tidak berdasar dan bersifat proteksionis.
Dikutip dari Reuters, AS pada Jumat (24/7) mengenakan tarif baru sebesar 10% hingga 12,5% terhadap produk dari 60 mitra dagang, termasuk Uni Eropa dan China. Washington menilai bahwa negara-negara tersebut belum mampu menekan impor terhadap barang yang diproduksi menggunakan kerja paksa. Untuk China, tarif yang dikenakan mencapai 12,5%.
Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa kebijakan tersebut berpotensi mengganggu gencatan perang dagang antara kedua negara. Langkah tersebut juga muncul ketika Beijing dan Washington mempersiapkan kemungkinan kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS pada September mendatang.
Dalam pernyataannya, kementerian menuduh bahwa Washington selama ini memanfaatkan isu kerja paksa sebagai alasan untuk menerapkan kebijakan sepihak. Beijing menyebut tarif baru tersebut sebagai bentuk unilateralisme dan proteksionisme. Tetapi, Beijing tetap membuka ruang dialog berdasarkan prinsip saling menghormati, kesetaraan, dan saling menguntungkan.
"AS kembali meluncurkan investigasi berdasarkan Section 301 dan mengenakan tarif sepihak dengan dalih 'kerja paksa'. Ini merupakan tindakan unilateralisme dan proteksionisme yang dengan tegas ditolak China," ujar Kementerian Perdagangan China.
China menegaskan bahwa pihaknya menentang praktik kerja paksa. Beijing juga menyatakan bahwa China telah memiliki sistem hukum ketenagakerjaan yang komprehensif untuk mencegah dan memberantas praktik tersebut. Menurut China, AS justru belum meratifikasi Konvensi Kerja Paksa 1930 dan terus memanfaatkan isu tersebut untuk kepentingannya.
Kementerian juga menyebutkan bahwa AS sebelumnya telah berkomitmen dalam perundingan dagang bahwa tarif pengganti atas produk China tidak akan melebihi 20%. Tarif baru sebesar 12,5% yang dikenakan melalui investigasi kerja paksa masih berada dalam batas tersebut.
China mendesak AS untuk memperbaiki kebijakan yang dinilai keliru dan mencabut seluruh tarif sepihak terkait isu tersebut. Beijing juga menegaskan berhak mengambil semua langkah yang diperlukan setelah mengevaluasi kebijakan lanjutan dari Washington.
"China berharap AS dapat bekerja sama untuk menjalankan kesepakatan yang telah dicapai dalam perundingan dagang, terus mengurangi daftar persoalan, dan memperluas bidang kerja sama," kata kementerian tersebut.(ARF)