TRIM bicara pipeline IPO, kini tawarkan obligasi korporasi bagi ritel

Rabu, 29 Juli 2026

image

JAKARTA – Pasar modal Indonesia masih dipenuhi tekanan dan volatilitas, dengan catatan IHSG yang telah merosot 29,92% sejak awal tahun, serta transaksi harian investor dalam negeri yang turut menipis.

Namun, Direktur PT Trimegah Sekuritas Tbk (TRIM), Anung Rony Hascaryo, mengungkapkan belum ada calon emiten dalam pipeline yang menyatakan akan membatalkan rencana IPO-nya.

Menurutnya, Trimegah Sekuritas terus menerus melakukan tahap diskusi dengan para calon emiten untuk menentukan harga pelaksanaan terbaik bagi debutnya di pasar modal.

“Emiten, kan, inginnya pasti mendapat harga yang terbaik. Jadi, mungkin belum tercapai ekspektasi mereka [dengan kondisi pasar terkini],” ujar Anung saat ditemui di Konferensi Pers Grand Launching Trima+ oleh Trimegah, Selasa (28/7).

Anung menegaskan bahwa para calon emiten ini tidak berarti menunda rencana IPO-nya, namun cenderung lebih menilai kondisi pasar. “Lebih ke timing-nya saja, sebenarnya,” imbuh Anung.

Di sisi lain, pihak Trimegah juga mengakui bahwa animo investor saham di Indonesia memang tengah surut di tengah volatilitas pasar modal.

Meski demikian, Billy Budiman, Head of Equity Retail Trimegah Sekuritas, mengungkapkan bahwa meski kinerja IHSG dan jumlah transaksi masih lesu, jumlah investor retail terus bertambah.

Billy meyakini bahwa perputaran dana dan transaksi di pasar modal akan cepat pulih. Ia mencontohkan reli IHSG yang sempat bertahan sepekan setelah S&P mempertahankan rating kredit Indonesia pada tengah Juli 2026.

“Waktu itu, transaksi saham sehari-hari langsung naik, cepat. Jadi, menurut saya, dananya ada, tapi tinggal menunggu momentum yang pas,” jelas Billy, saat ditemui di Konferensi Pers Grand Launching Trima+ oleh Trimegah, Selasa (28/7).

Lebih lanjut, Billy juga menyoroti fenomena oversubscription pada gelombang IPO awal Juli 2026 lalu, yang mengindikasikan bahwa investor sebenarnya memiliki banyak dana yang disiapkan untuk menyambut momen yang tepat.

Di sisi lain, Anung mengungkapkan bahwa tren penerbitan obligasi justru meningkat. “Setidaknya year-to-date, ya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Trimegah sendiri masih memiliki beberapa jadwal penerbitan obligasi dengan skema Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB), dan tengah menunggu kondisi pasar yang mendukung untuk menerbitkan surat utangnya.

Peluncuran Trima+

Untuk mengakomodasi minat dan jumlah investor yang terus bertumbuh, Trimegah juga menghadirkan pembaharuan aplikasi investasi digital Trima+ miliknya, yang kini dilengkapi dengan opsi pembelian obligasi korporasi bagi para investor retail.

Obligasi korporasi sebenarnya bukanlah instrumen investasi yang baru, namun jarang dapat diakses oleh investor retail. Kini, surat utang korporasi tersebut dapat dibeli di aplikasi Trima+, dan dibanderol mulai di harga Rp5 juta per unit.

Di sisi lain, Head of Retail & Partnership Fixed Income Trimegah, Legazea Syifa A., juga menekankan pentingnya investor mengetahui risiko kredit (credit risk) dan risiko likuiditas (liquidity risk) sebelum berinvestasi di obligasi korporasi.

Ia menyebutkan bahwa obligasi korporasi yang ditawarkan di platform Trima+ sudah dikurasi, sehingga hanya menampilkan surat utang yang memiliki investment grade credit rating, yaitu rating antara BBB hingga AAA.

Selain itu, ia juga mengungkapkan opsi untuk mengatasi liquidity risk, dengan menghadirkan fitur bid dan offer pada obligasi di aplikasi tersebut, termasuk obligasi negara dan korporasi.

“Karena berbeda dengan SBN yang dijamin 100% oleh negara, obligasi korporasi terdapat risiko,” tegasnya. (ZH)