Goldman Sachs bikin prediksi untuk harga emas, tembaga dan minyak 2026
Jumat, 19 Desember 2025

JAKARTA - Goldman Sachs memperkirakan harga emas akan terus menguat hingga US$4.900 per troi ons pada Desember 2026, atau naik sekitar 14% dari level saat ini, menurut laporan prospek komoditas bank tersebut yang dirilis Kamis. Proyeksi ini didasarkan pada skenario dasar Goldman.
Dikutip reuters.com, bank investasi asal AS itu menilai permintaan struktural yang kuat dari bank sentral, ditambah dukungan siklikal dari potensi pemangkasan suku bunga Federal Reserve, akan menjadi pendorong utama reli emas. Goldman tetap merekomendasikan posisi long pada emas, dengan catatan risiko kenaikan harga masih terbuka jika minat investor swasta untuk diversifikasi aset semakin besar.
Di sisi logam industri, Goldman memperkirakan harga tembaga akan bergerak konsolidatif sepanjang 2026, dengan harga rata-rata tahunan diproyeksikan US$11.400 per ton. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi ketidakpastian tarif yang berlanjut hingga pertengahan 2026, sebelum kemungkinan penerapan tarif AS atas tembaga olahan mulai 2027.
“Terlepas dari kenaikan harga tembaga baru-baru ini dan ekspektasi kami akan konsolidasi pada tahun 2026, tembaga tetap menjadi logam industri 'yang paling kami sukai', terutama dalam jangka panjang. Hal ini karena elektrifikasi yang menyumbang hampir setengah dari permintaan tembaga—menyiratkan pertumbuhan permintaan yang kuat secara struktural, sementara pasokan pertambangan tembaga menghadapi kendala unik,” tulis Goldman Sachs.
Pekan lalu, harga tembaga sempat menyentuh rekor US$11.952 per ton.
Sementara itu, Goldman memandang harga minyak akan terus tertekan pada 2026. Harga rata-rata tahunan Brent diperkirakan turun ke USD 56 per barel, sedangkan WTI ke US$52 per barel.
“Kecuali terjadi gangguan pasokan skala besar atau pengurangan produksi OPEC, harga minyak yang lebih rendah mungkin diperlukan setelah tahun 2026 untuk menyeimbangkan kembali pasar,” sebut laporan tersebut.
Goldman memperkirakan harga minyak akan mencapai titik terendah sekitar pertengahan 2026, seiring pasar mulai mengantisipasi penyeimbangan kembali pasokan dan permintaan. Faktor pendukungnya antara lain pertumbuhan permintaan sekitar 1,2 juta barel per hari, potensi penurunan pasokan Rusia jika konflik Ukraina dan sanksi berlanjut, serta perlambatan pertumbuhan produksi non-OPEC.
“Kami yakin prospek harga minyak kami untuk tahun 2026-2027 menghadapi risiko penurunan,” kata Goldman.
Namun, bank ini memperkirakan harga minyak akan kembali menguat mulai akhir 2027, ketika pasar beralih fokus pada kebutuhan investasi produksi jangka panjang. Brent dan WTI diproyeksikan pulih masing-masing ke US$80 dan US$76 per barel pada akhir 2028.
Untuk gas alam, Goldman memproyeksikan harga Dutch TTF sebesar €29 per MWh pada 2026 dan €20 pada 2027, sementara harga gas alam AS diperkirakan US$4,60 per MMBtu pada 2026 dan US$3,80 pada 2027.
Goldman juga menyoroti risiko di sektor kelistrikan AS akibat lonjakan permintaan listrik dan penutupan pembangkit batu bara yang lebih cepat dibanding pembangunan kapasitas baru.
“Akibatnya, pasar listrik AS menghadapi risiko kenaikan harga yang signifikan atau bahkan pemadaman listrik. Risiko ini sangat parah di pasar listrik lokal tempat pusat data berkembang pesat, karena 72% dari semua pusat data AS terkonsentrasi di wilayah yang hanya mencakup 1% dari total populasi negara,” tulis Goldman Sachs.(DH)