Amerika hadapi krisis listrik, PJM siapkan langkah cegah blackout

Rabu, 29 Juli 2026

image

JAKARTA - Operator jaringan listrik terbesar di Amerika Serikat, PJM Interconnection, menyiapkan serangkaian langkah darurat untuk mengatasi ancaman kekurangan pasokan listrik yang semakin melebar akibat lonjakan kebutuhan energi dari pusat data (data center).

Seperti dikutip Reuters, PJM yang memasok listrik bagi sekitar seperlima penduduk Amerika Serikat di 13 negara bagian kawasan Mid-Atlantic dan Midwest, akan mengajukan dua proposal kepada Federal Energy Regulatory Commission (FERC).

Salah satu proposal mencakup pembentukan mekanisme reliability backstop procurement, yakni skema pengadaan listrik tambahan untuk memenuhi kebutuhan data center yang belum memperoleh pasokan melalui kontrak jangka panjang.

Proses pengadaan darurat tersebut dijadwalkan berlangsung pada 30 September hingga 21 Oktober 2026, sementara hasilnya akan diumumkan pada Desember.

PJM memperkirakan permintaan listrik dari pelanggan berkapasitas sangat besar, terutama pusat data, akan melonjak sekitar 70 gigawatt (GW) hingga 2038. Sebagai gambaran, 1 GW mampu memasok listrik bagi sekitar 750.000 rumah.

Dalam lelang kapasitas tahunan bulan ini, harga listrik mencapai batas atas US$325 per megawatt-hari.

Meski harga yang tinggi diharapkan mendorong pembangunan pembangkit baru, PJM masih menghadapi kekurangan pasokan sekitar 6,8 GW dibandingkan kebutuhan keandalan sistem.

Defisit tersebut lebih besar dibandingkan lelang tahun sebelumnya dan meningkatkan risiko gangguan pasokan hingga pemadaman listrik apabila permintaan terus meningkat.

Selain memperkuat pasokan, PJM juga mengusulkan pembentukan registri nasional bagi pusat data dan konsumen listrik berskala besar. Basis data tersebut akan memantau lokasi serta tingkat konsumsi listrik setiap fasilitas sehingga operator dapat memproyeksikan kebutuhan daya secara lebih akurat.

Dalam proposal itu, PJM juga mengusulkan kewenangan untuk menghentikan sementara pasokan listrik ke pusat data yang tidak memiliki sumber listrik mandiri ketika sistem menghadapi tekanan ekstrem.

Namun, PJM menegaskan implementasi kebijakan tersebut tetap memerlukan persetujuan pemerintah di masing-masing negara bagian karena operator jaringan tidak memiliki kewenangan untuk membatasi konsumsi listrik pelanggan secara sepihak.

Lonjakan pembangunan pusat data, terutama yang mendukung pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), menjadi salah satu pendorong utama kenaikan konsumsi listrik di Amerika Serikat.

Kondisi tersebut memaksa operator jaringan mempercepat penambahan kapasitas pembangkit agar keandalan sistem tetap terjaga di tengah pertumbuhan permintaan yang semakin agresif.(DH)