Harga gas alam berjangka AS menguat, didukung arus LNG yang kuat
Jumat, 19 Desember 2025

JAKARTA - Harga berjangka gas alam AS membalikkan penurunan sebelumnya, naik lebih dari 3% pada Kamis (18/12) lalu dan diperdagangkan di atas US$4 per MMBtu, didorong oleh aliran gas alam ke fasilitas ekspor (Liquefied Natural Gas/LNG) yang hampir mencapai rekor.
Seperti dikutip oilprice.com, Kamis (18/12), pengiriman gas ke delapan fasilitas LNG utama AS rata-rata mencapai 18,6 Bcf/hari bulan ini, lebih tinggi dari rata-rata November sebesar 18,2 Bcf/hari.
Sementara itu, salah satu dari tiga jalur likuifikasi di terminal ekspor Freeport LNG di Texas kembali beroperasi, sehingga volume terminal meningkat.
Namun, kenaikan ini mungkin bersifat sementara karena perkiraan suhu di atas rata-rata di sebagian besar AS menjelang liburan Natal diprediksi akan menurunkan permintaan pemanas.
Stok yang melimpah dan produksi yang tinggi juga berpotensi menekan harga, dengan LSEG memperkirakan output gas bulan Desember mencapai sekitar 109,7 Bcf/hari, sejalan dengan rekor yang tercatat pada November.
AS diperkirakan akan tetap menjadi produsen gas alam terbesar di dunia tahun depan, dengan produksi gas kering diproyeksikan rata-rata antara 107,4–109 Bcf/hari.
Pendorong pertumbuhan utama adalah ekspansi kapasitas ekspor LNG, dengan fasilitas baru seperti Plaquemines LNG dan Golden Pass LNG yang meningkatkan operasional.
Kapasitas ekspor total diperkirakan mencapai sekitar 16,3 Bcf/hari pada 2026, memperkuat posisi AS sebagai "swing exporter" utama di pasar global.
Lonjakan pasokan global ini dapat menekan harga LNG internasional, yang bisa memengaruhi profitabilitas eksportir AS jika selisih harga domestik dan internasional menyempit.
Harga gas alam diperkirakan akan lebih stabil dibanding 2025, dengan produksi kuat dan tingkat penyimpanan tinggi yang mencegah lonjakan harga yang tajam. EIA memproyeksikan harga spot Henry Hub rata-rata sekitar US$4,00–US$4,01 per MMBtu untuk tahun 2026. (DK)