China terus jual obligasi AS hingga level terendah sejak 17 tahun

Minggu, 21 Desember 2025

image

JAKARTA - Data Departemen Keuangan Amerika Serikat memperlihatkan China telah memangkas kepemilikan obligasi dan surat utang Amerika (US treasury) pada Oktober ke level terendah dalam 17 tahun.

Menurut data yang dirilis Kamis (16/12) tersebut, kepemilikan surat utang Amerika oleh China turun menjadi $688,7 miliar pada Oktober 2025 dari $700,5 miliar pada September 2025.

Perusahaan data keuangan China, Wind, seperti dikutip dari South China Morning Post, menjelaskan bahwa nilai kepemilikan bulan Oktober itu merupakan level yang terendah sejak November 2008 dan mencerminkan penurunan lebih dari 47% dari puncaknya sekitar US$1,32 triliun pada November 2013.

China terus menjual kepemilikan obligasi pemerintah AS yang dimulai pada masa jabatan pertama Presiden AS Donald Trump, hingga turun ke posisi ketiga di antara pemegang treasury asing pada Maret 2025, di belakang Jepang dan Inggris.

Tahun ini, kecenderungan tersebut diperkirakan terus berlanjut di tengah kekhawatiran berkelanjutan tentang keberlanjutan utang AS yang mencapai US$38 triliun, penerapan One Big Beautiful Bill oleh Trump dan kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve saat Gedung Putih mendorong suku bunga agar lebih rendah.

Pada November, Beijing mempertahankan tren pembelian emasnya untuk bulan ke-13 berturut-turut sambil mengurangi pembelian obligasi AS. Menurut data resmi, cadangan emas China meningkat sebesar 30.000 troi ons, sehingga total stoknya menjadi 74,12 juta troi ons, senilai US$310,6 miliar.

Meskipun kepemilikan asing secara keseluruhan atas obligasi AS sedikit menurun dari US$9,248 triliun pada September menjadi US$9,243 triliun pada Oktober, nilainya tetap melebihi US$9 triliun untuk bulan kedelapan berturut-turut.

Pemegang asing terbesar, Jepang, menaikkan kepemilikannya dari US$1,189 triliun menjadi US$1,2 triliun pada Oktober.

Inggris, pemegang terbesar kedua, menaikkan kepemilikannya dari US$864,7 miliar pada September menjadi US$877,9 miliar pada Oktober 2025. (YS).