Skandal eFishery masih bayangi minat investor terhadap startup RI

Minggu, 21 Desember 2025

image

Jakarta – Skandal yang menimpa startup agritech eFishery masih meninggalkan dampak besar bagi ekosistem startup Indonesia.

Seperti dikutip dari thestar.com.my, Jumat (19/12), kasus manipulasi laporan keuangan perusahaan unicorn ini mengguncang kepercayaan investor dan mendorong perubahan perilaku pendiri startup maupun modal ventura.

Vincent Tjendra dan Marcella Moniaga, pendiri startup quick commerce Astro, merasakan langsung dampak tersebut. Sepanjang tahun ini, keduanya kesulitan menggalang pendanaan baru di tengah krisis global dan meningkatnya kehati-hatian investor pasca-skandal eFishery.

Situasi mulai berubah pada September ketika Amazon.com Inc. mengucurkan investasi senilai US$51,9 juta ke Astro.

Meskipun valuasi perusahaan turun sekitar 30% dibanding putaran sebelumnya, Tjendra menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah penting untuk keberlanjutan bisnis.

“Kami membangun untuk jangka panjang. Putaran pendanaan yang lebih rendah bukan masalah besar,” ujar Tjendra.

Kasus eFishery menjadi titik balik bagi industri. Startup yang sebelumnya bernilai US$1,4 miliar itu diketahui memalsukan laporan pendapatan dan laba. Sekitar US$300 juta dana investor dilaporkan tidak jelas keberadaannya. Polisi telah menahan pendirinya, Gibran Huzaifah, bersama dua mantan eksekutif, dan proses hukum kini memasuki tahap kejaksaan.

Dampaknya, banyak investor menunda pendanaan dan memperketat uji tuntas. “Rusaknya kepercayaan menjadi faktor utama investor memperlambat keputusan investasi,” kata Rama Mamuaya, mitra DSX Ventures sekaligus Wakil Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia untuk Startup.

Tekanan terhadap industri tercermin dari data pendanaan. Startup Indonesia hanya menghimpun sekitar US$80 juta pada paruh pertama tahun ini, turun tajam dari US$200 juta pada periode sama tahun lalu, dan jauh dari puncak US$9,44 miliar pada 2021.

Sejumlah investor institusional juga terseret kasus di sektor agritech. Pada September, pejabat senior di MDI dan BRI Ventures ditahan terkait dugaan pelanggaran keuangan dalam investasi mereka di TaniHub. Meski belum ada putusan pengadilan, kasus ini memperburuk sentimen pasar.

“Standar investasi sekarang jauh lebih tinggi,” kata Sang Han, mitra East Ventures. “Investor kini lebih fokus pada tata kelola, transparansi keuangan, dan valuasi realistis.”

Di tengah tekanan, banyak pendiri startup mengubah strategi. Fokus bergeser dari pertumbuhan agresif ke efisiensi dan pendapatan. Model “bakar uang” mulai ditinggalkan, digantikan disiplin operasional dan pemahaman pasar.

Joel Shen, mitra firma hukum Withers, menilai fase ini sebagai proses pendewasaan industri. “Pendanaan memang menurun, tetapi startup yang solid tetap bisa mengumpulkan dana. Valuasi kini lebih rasional,” ujarnya.

Pemerintah juga berupaya menjaga iklim investasi. Pada Oktober, Kementerian Investasi menurunkan modal disetor minimum perusahaan asing dari Rp10 miliar menjadi Rp2,5 miliar per kegiatan usaha untuk mendorong arus modal.

Perubahan juga terjadi di sisi pasar. Menyusutnya kelas menengah Indonesia membuat banyak startup menargetkan konsumen berpenghasilan rendah dengan produk lebih terjangkau.

Startup seperti Jago Coffee menjadi contoh adaptasi. Dengan konsep gerobak kopi keliling berbiaya rendah, perusahaan ini mampu bertahan di tengah perlambatan pendanaan.

“Pasar massal kita adalah mereka yang hidup dari upah minimum,” kata Yoshua Tanu, CEO Jago Coffee.

Runtuhnya eFishery menjadi peringatan keras bagi dunia startup Indonesia. Namun, di balik guncangan tersebut, industri dinilai tengah bergerak menuju fase yang lebih matang—dengan disiplin, transparansi, dan fokus pada fundamental bisnis sebagai kunci pertumbuhan berkelanjutan. (GA)