Utang dan obligasi global dalam denominasi yuan melonjak, mengapa?
Minggu, 21 Desember 2025
JAKARTA – Mata uang China, Yuan atau renminbi, semakin menunjukkan peran sebagai mata uang pendanaan alternatif di tengah dominasi dolar AS di sektor finansial global.
Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (19/12), lonjakan penerbitan obligasi dan pinjaman berdenominasi yuan dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan meningkatnya minat investor global, seiring biaya pendanaan yang lebih murah dan stabilitas nilai tukar yang relatif terjaga.
Penjualan obligasi Dim Sum, utang berdenominasi yuan yang diterbitkan di luar China, mencapai rekor baru. Pinjaman yuan lintas negara pun melonjak tajam dan diperkirakan akan melampaui pinjaman dolar AS di bank-bank China.
Data menunjukkan pinjaman bank luar negeri China meningkat hampir tiga kali lipat dalam empat tahun terakhir menjadi 2,52 triliun yuan. Sementara itu, penerbitan utang yuan, baik di pasar domestik maupun luar negeri, berada di level tertinggi atau mendekati rekor untuk dua tahun berturut-turut.
Pelaku pasar menilai lonjakan tersebut terutama didorong oleh faktor biaya. Suku bunga yuan yang relatif rendah membuat pendanaan dalam mata uang China lebih menarik dibanding dolar AS, terutama sejak bank sentral AS agresif menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi.
Selain faktor biaya, pasar juga mulai menunjukkan momentum tersendiri. Permintaan untuk memiliki dan menggunakan yuan meningkat, mencerminkan kemajuan upaya Beijing dalam menginternasionalisasi mata uangnya, bahkan tanpa pelonggaran signifikan pada rekening modal.
“Saat ini, pendanaan renminbi semakin didorong oleh minat fundamental,” ujar Samuel Fischer, Head of China Domestic Debt Capital Markets di Deutsche Bank.
Investor internasional, lanjutnya, kini tidak hanya memanfaatkan arbitrase, tetapi mulai menjadikan yuan sebagai bagian dari alokasi portofolio jangka panjang “Dolar berada di titik kritis, dan diversifikasi benar-benar sedang berlangsung,” tambahnya.
China mendorong penggunaan yuan dalam perdagangan dan pembiayaan internasional, dan hasilnya mulai terlihat.
Porsi yuan dalam perputaran valuta asing global naik menjadi sekitar 8,5% pada April lalu, menurut Bank for International Settlements (BIS). Meski masih jauh di bawah dolar AS yang mencakup sekitar 89% transaksi global, tren kenaikannya konsisten.
Sepanjang 11 bulan hingga akhir November, penerbit non-China menghimpun 169,7 miliar yuan di pasar domestik China. Sementara itu, total penerbitan utang yuan di pasar luar negeri mencapai rekor 801,9 miliar yuan, menunjukkan kuatnya permintaan global.
Meski demikian, angka ini masih relatif kecil dibanding total penerbitan utang global tahun ini yang mencapai US$9,57 triliun, dengan sekitar US$4,5 triliun dalam dolar AS dan US$2,2 triliun dalam euro. Namun, dalam tiga tahun terakhir, penerbitan utang yuan oleh entitas asing, baik di dalam maupun luar China, telah meningkat lebih dari dua kali lipat.
Di pasar pinjaman, data bank sentral China menunjukkan pinjaman dalam mata uang asing, yang sebagian besar didominasi dolar AS, turun menjadi US$375 miliar pada akhir November dari puncaknya US$587 miliar pada 2022. Sebaliknya, pinjaman yuan melonjak mendekati US$357 miliar.
Biaya pendanaan yuan berada di bawah biaya pendanaan dolar sejak 2022. Selisih imbal hasil antara obligasi pemerintah China tenor 10 tahun dan obligasi AS sempat melebar hampir 315 basis poin pada awal tahun. Bahkan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10 tahun tercatat lebih tinggi dibanding China.
Menurut S&P Global, obligasi panda tenor tiga tahun diterbitkan dengan kupon antara 1,7% hingga 2,7% sepanjang tahun ini, jauh lebih rendah dibanding imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk tenor serupa di kisaran 3,5%.
Stabilitas nilai tukar yuan terhadap dolar AS dan euro yang lebih volatil juga menjadi daya tarik tambahan, karena mengurangi risiko nilai tukar dan kebutuhan lindung nilai yang mahal bagi penerbit asing.
Selain faktor pasar, ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif turut mempercepat regionalisasi perdagangan, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan terhadap kewajiban berdenominasi yuan. China, melalui inisiatif seperti Belt and Road Initiative (BRI), kerap menggunakan yuan dalam pembiayaan proyek infrastruktur lintas negara. Dana yang dihimpun sering kali kembali ke perusahaan konstruksi China dan dibayarkan dalam yuan, memperkuat ekosistem mata uang tersebut.
Beberapa negara telah memanfaatkan skema ini. Indonesia menerbitkan obligasi Dim Sum senilai 6 miliar yuan pada Oktober. Kazakhstan mengumpulkan 2 miliar yuan pada September. Kenya bahkan mengonversi pinjaman pembangunan jalur kereta api dari dolar AS ke yuan, sementara Ethiopia tengah meninjau langkah serupa.
Meski peran yuan terus meningkat, para analis menilai China tidak secara langsung berupaya menggulingkan dominasi dolar AS. Sebaliknya, Beijing membangun fondasi sistem keuangan alternatif yang tidak sepenuhnya bergantung pada dolar.
“China merekayasa pergeseran sistem mata uang bukan melalui konfrontasi langsung dengan dolar, tetapi lewat ribuan keputusan pembayaran dan pengadaan,” kata Chi Lo, Global Market Strategist di BNP Paribas Asset Management.
“Tujuan utama kebijakan tersebut bersifat defensif, memastikan sistem yang didominasi dolar tidak dapat digunakan sebagai alat tekanan terhadap China.”
Ke depan, selama China mampu menjaga stabilitas yuan dan mempertahankan daya tarik biaya pendanaan, pinjaman dan penerbitan utang berdenominasi yuan diperkirakan akan terus mencetak rekor baru. (GA)