Kapal selam AS kalah jumlah di Pasifik, Korea Selatan siap bantu
Minggu, 21 Desember 2025

Jakarta – Amerika Serikat menghadapi kekurangan jumlah kapal selam di kawasan Pasifik, dan Korea Selatan muncul sebagai mitra strategis yang berpotensi membantu menutup celah tersebut. Seoul berencana bergabung dengan kelompok elite negara pengoperasi kapal selam bertenaga nuklir, sebuah langkah yang telah mendapat restu Presiden AS Donald Trump.
Jika rencana tersebut terwujud, Korea Selatan akan menjadi negara ketujuh di dunia yang mengoperasikan kapal selam bertenaga nuklir, bergabung dengan Amerika Serikat, Rusia, China, Prancis, Inggris, dan India. Langkah ini dinilai menguntungkan kedua pihak, baik dari sisi keamanan regional maupun kepentingan aliansi militer.
Sepertidikutip edition.cnn.com, Sabtu (20/12), Dengan kemampuan kapal selam nuklir, Korea Selatan dapat meningkatkan pengawasan dan daya tangkal terhadap aktivitas militer Korea Utara dan China di sekitar Semenanjung Korea. Di saat yang sama, Angkatan Laut AS dapat mengalihkan kapal selam serang bertenaga nuklirnya untuk fokus pada kawasan rawan lain, seperti Laut China Selatan dan Selat Taiwan.
“Bagi Korea Selatan, ini akan menjadi pengubah permainan dalam menghadapi ancaman bawah laut Korea Utara,” kata Yu Jihoon, peneliti Institut Analisis Pertahanan Korea. Menurutnya, kemampuan tersebut akan memperkuat peran Seoul dalam aliansi keamanan dengan Washington.
Selain implikasi strategis, proyek ini juga berpotensi memberikan dampak ekonomi. Pembangunan kapal selam di AS dan Korea Selatan diperkirakan menciptakan ribuan lapangan kerja manufaktur bergaji tinggi, sekaligus memperkuat industri pertahanan kedua negara.
Meski demikian, realisasi rencana tersebut tetap bergantung pada detail teknis, biaya, serta dinamika politik dan keamanan kawasan. Seperti lazimnya proyek militer berskala besar, tantangan implementasi dinilai akan menjadi faktor penentu keberhasilan ambisi Korea Selatan memasuki klub kapal selam nuklir dunia.(GA)