Fed tak ubah bunga, obligasi AS sentuh level tertinggi sejak 2007
Jumat, 31 Juli 2026
LONDON — Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007 pada Kamis (30/7).
Di saat yang sama, bursa saham global berusaha pulih setelah laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar memberi sinyal positif bagi investor.
Dikutip dari Reuters, imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun naik ke 5,239%, level tertinggi dalam 19 tahun. Kenaikan terjadi sehari setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya.
Namun, Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyampaikan bahwa sinyal yang beragam terkait arah kebijakan moneter dan prospek inflasi. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kesulitan untuk memperkirakan langkah bank sentral berikutnya, terutama setelah Warsh mengurangi praktik memberikan panduan kebijakan (forward guidance).
Pasar saat ini berada dalam fase yang sensitif. Penurunan tajam saham sejumlah perusahaan yang sebelumnya menjadi pendorong reli kecerdasan buatan (AI) sempat memicu kekhawatiran investor.
Indeks KOSPI Korea Selatan ditutup turun 1,23% dan mencatat pelemahan selama tiga hari berturut-turut.
"Kami tidak melihat tren AI telah berakhir. Namun, perjalanan menuju pertumbuhan itu tetap akan menghadapi berbagai tantangan," kata Head of Equity Research Rathbones Sanjiv Tumkur.
Perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan Microsoft dan Meta untuk menilai apakah investasi besar di bidang AI mulai menghasilkan keuntungan.
Saham Microsoft naik 7,97% pada perdagangan prapasar setelah perusahaan memperkirakan arus kas akan tetap kuat hingga tahun fiskal 2027.
Sebaliknya, saham Meta turun 8,47% setelah laporan keuangannya menunjukkan besarnya tekanan dari investasi AI yang masih menyerap banyak dana.
Analis Jefferies, menilai bahwa Microsoft sudah berada pada jalur pertumbuhan yang kuat, sementara Meta masih berada pada tahap membangun fondasi.
Kontrak berjangka Nasdaq 100 naik 0,41%, sedangkan futures S&P 500 dan Dow Jones masing-masing menguat 0,24%.
Di Eropa, indeks STOXX 600 naik 0,48%. Sementara itu, indeks MSCI All Country World menguat tipis 0,11% setelah melemah selama dua sesi sebelumnya.
Ketidakpastian pasar juga dipengaruhi kembali memanasnya konflik di Timur Tengah. Situasi tersebut menyulitkan investor untuk mengukur dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi.
Penurunan harga minyak Brent pada bulan lalu sempat membantu menjaga inflasi AS pada Juni. Namun, harga minyak kini kembali naik hingga menembus US$92 per barel.
Tiga pejabat The Fed menyampaikan perbedaan pendapat dalam rapat terakhir dengan mendukung kenaikan suku bunga. Perbedaan pandangan tersebut membuat sejumlah analis menilai proses pengambilan kebijakan The Fed berpotensi menjadi semakin rumit jika tekanan inflasi terus berlanjut.
Ekonom RBC Economics memperkirakan bahwa The Fed masih akan menghadapi inflasi sebagai persoalan yang bertahan hingga paruh kedua tahun ini.
Keputusan mempertahankan suku bunga memberi ruang bagi bank sentral untuk menunggu dua laporan inflasi berikutnya sebelum pertemuan pada September.
Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September 2026 meningkat menjadi 65,2% dari 57,3% sepekan sebelumnya, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Di sisi lain, sebagian ekonom mempertanyakan efektivitas kenaikan suku bunga dalam kondisi saat ini.
Chief Economic Strategist Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menilai bahwa menaikkan suku bunga untuk menghadapi inflasi akibat gangguan pasokan merupakan langkah yang kurang tepat.
Menurutnya, kenaikan suku bunga umumnya efektif meredam inflasi yang dipicu permintaan. Sementara itu, ancaman inflasi saat ini lebih banyak berasal dari potensi terganggunya pasokan minyak jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut.
Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia. Jalur alternatif melalui Selat Bab el-Mandeb juga menghadapi ancaman setelah kembali diserang kelompok Houthi yang didukung Iran, sehingga memperburuk prospek pasokan energi global. (ARF)