Ekspor lewat Hormuz terhenti, QatarEnergy beli LNG Amerika

Jumat, 31 Juli 2026

image

SINGAPURA — QatarEnergy mulai kembali mengirimkan gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz setelah hampir tiga pekan terhenti akibat konflik di Timur Tengah. Di saat yang sama, perusahaan energi milik negara Qatar tersebut juga membeli 33 kargo LNG spot dari Amerika Serikat untuk menjaga pasokan kepada pelanggan di Asia selama ekspor dari Qatar terganggu.

Dikutip dari Reuters, berdasarkan data pelacakan kapal dari Kpler dan LSEG, kapal LNG Al Areesh yang dikendalikan QatarEnergy menjadi kapal pertama yang tercatat keluar dari Selat Hormuz sejak 11 Juli 2026.

Pasokan Terjaga

Kapal tersebut mengangkut muatan dari terminal Ras Laffan pada 4-6 Juli 2026 dan keluar dari Selat Hormuz pada Rabu (29/7). Berdasarkan data LSEG, kapal itu kini menuju Port Qasim, Pakistan, dan diperkirakan akan tiba pada Jumat (31/7)

Al Areesh menjadi kapal LNG pertama milik QatarEnergy yang berhasil keluar dari Selat Hormuz sejak kapal Al Rekayyat terdampak serangan pada awal Juli 2026.

Pada Kamis (30/7), kantor berita Iran, Fars, melaporkan sebuah kapal Qatar yang mengangkut LNG melintasi jalur pelayaran yang ditetapkan Iran di Selat Hormuz setelah memperoleh izin dari pemerintah Iran. Namun, laporan tersebut tidak menyebutkan identitas kapal.

Sebelum diblokade akibat perang yang pecah pada Februari setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Selat Hormuz menjadi jalur pengiriman sekitar 20% dari pasokan minyak mentah dan LNG dunia.

Sebelumnya, kapal LNG terakhir yang keluar dari Selat Hormuz adalah Al Hamra pada 11 Juli 2026. Kapal tersebut membawa muatan dari Das Island, Uni Emirat Arab.

Di sisi lain, kapal LNG Mraweh yang dioperasikan ADNOC Gas kembali terdeteksi berada di dalam Selat Hormuz pada Kamis setelah sebelumnya terakhir terpantau berada di luar selat dalam kondisi tanpa muatan pada 24 Juli 2026.

Juru bicara ADNOC menyatakan bahwa perusahaan tidak membagikan informasi mengenai posisi maupun rute pelayaran armadanya.

Reuters juga melaporkan QatarEnergy belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar di luar jam kerja.

Selama gangguan ekspor melalui Selat Hormuz, QatarEnergy membeli 33 kargo LNG spot dari Amerika Serikat untuk memastikan pasokan kepada pelanggan utamanya di Korea Selatan, Taiwan, Bangladesh, India, dan Jepang tetap terjaga.

Pembelian tersebut dilakukan setelah perusahaan menetapkan status force majeure menyusul terhentinya ekspor LNG melalui Selat Hormuz. Langkah tersebut juga diambil untuk menjaga reputasi QatarEnergy sebagai pemasok LNG yang andal sekaligus memastikan pengiriman kepada pelanggan tetap berlangsung.

Sebanyak 33 kargo tersebut diperkirakan setara dengan sekitar sepertiga ekspor LNG bulanan QatarEnergy sebelum konflik terjadi, dengan nilai mencapai sekitar US$1 miliar.

Sebagai perbandingan, QatarEnergy hanya membeli empat kargo LNG spot sepanjang tahun lalu. Sebagian besar pembelian tahun ini berasal dari produsen LNG Amerika Serikat, Venture Global, serta sejumlah pelanggan perusahaan.

Berdasarkan data Kpler, sebanyak 28 dari 33 kargo telah tiba di tujuan, sedangkan lima kargo lainnya masih dalam perjalanan menuju Korea Selatan, Taiwan, dan India.

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan. Data Kpler mencatat 12 kapal komoditas melintasi selat tersebut pada Rabu (29/7), terdiri atas enam kapal masuk dan enam kapal keluar. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dua hari sebelumnya.

Sebaliknya, lalu lintas kapal di Selat Bab el-Mandeb justru melambat. Kpler mencatat 19 kapal komoditas melintas pada Rabu (29/7), sementara LSEG memperkirakan jumlahnya mencapai 26 kapal.

Dari 19 kapal yang tercatat Kpler, sebanyak delapan kapal memasuki selat dan 11 kapal keluar. Empat di antaranya merupakan kapal tanker pengangkut minyak mentah.

Kpler mengingatkan jumlah tersebut belum mencakup kapal yang berlayar dengan mematikan transponder.

Data Kpler dan AXSMarine juga menunjukkan bahwa aktivitas pemuatan minyak mentah di pelabuhan Yanbu, Laut Merah, turun sedikitnya 30% pada pekan lalu setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade terhadap Arab Saudi.

Namun, Vortexa memperkirakan ekspor minyak masih relatif stabil karena meningkatnya aktivitas pemuatan oleh kapal tanker yang tidak memancarkan sinyal pelacakan atau dark tanker.

"Kami melihat peningkatan yang jelas pada jumlah kapal tanker minyak mentah dan kondensat yang bergerak ke utara setelah memuat kargo di Laut Merah. Pergeseran ini mencerminkan kembali meningkatnya risiko keamanan di sekitar Bab el-Mandeb," kata analis Vortexa George Morris.

Menurut Morris, muatan dari pelabuhan Yanbu menyumbang sekitar 15% dari impor minyak mentah dan kondensat Asia melalui jalur laut pada Juni. Karena itu, gangguan berkepanjangan di jalur tersebut berpotensi memberi dampak signifikan terhadap kilang minyak di kawasan Asia. (ARF)