Nicolas Maduro kecam latihan perang AS di Trinidad dan Tobago
Senin, 17 November 2025

VENEZUELA — Amerika Serikat memperkuat kehadirannya di Trinidad dan Tobago dan kembali menggelar latihan militer gabungan pada Minggu (16/11).
Presiden Venezuela Nicolás Maduro, seperti dikutip elimparcial.com, mengecam manuver tersebut sebagai tindakan “tidak bertanggung jawab” di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Karibia. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato di hadapan para pendukungnya di Petare, Caracas. Dalam kesempatan tersebut, Maduro menyerukan kewaspadaan dan menuduh Amerika Serikat tengah melakukan “perang kriminal”.
Maduro tidak hanya mengkritik latihan itu, tetapi juga mengirim pesan langsung kepada warga Trinidad dan Tobago. “Rakyat Trinidad dan Tobago akan melihat apakah mereka akan terus membiarkan air dan tanah mereka digunakan untuk secara serius mengancam perdamaian Karibia,” ujarnya.
Pemimpin Venezuela itu juga mendesak pendukungnya di wilayah timur untuk menjaga “vigilia" dan aksi turun ke jalan secara terus-menerus selama latihan berlangsung. Istilah vigilia berasal dari bahasa Spanyol, berarti berjaga sepanjang malam atau melakukan ronda/pengawasan tanpa henti sebagai bentuk kewaspadaan politik atau spiritual. Maduro meminta mobilisasi dilakukan dengan semangat patriotik, namun tetap damai dan tidak terprovokasi.
Pengumuman latihan selama lima hari ini muncul setelah Amerika Serikat pada bulan lalu mengirim kapal perusak berpeluncur rudal ke Trinidad dan Tobago untuk pelatihan—langkah yang sebelumnya sudah dikecam Venezuela sebagai “provokasi militer”.
Merespons tuduhan tersebut, Menteri Luar Negeri Trinidad dan Tobago Sean Sobers menegaskan bahwa latihan ini bukan persiapan untuk aksi militer AS terhadap Venezuela. Pemerintah Trinidad dan Tobago menyatakan latihan dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman taktik dan teknik antara kedua militer. Washington, pada sisi lain, menegaskan bahwa pengerahan itu merupakan bagian dari operasi untuk menggagalkan perdagangan narkotika ilegal di Karibia.
Perdana Menteri Trinidad dan Tobago Kamla Persad-Bissessar menjadi pendukung kuat kehadiran AS dan beberapa kali berselisih dengan Maduro. Sikap itu sejalan dengan pernyataan Presiden Donald Trump, yang menyebut “hari-hari Maduro sudah dihitung” dan bahwa serangan darat AS terhadap Venezuela tetap menjadi opsi.
Sementara itu, pemimpin oposisi Venezuela María Corina Machado—yang kini berada dalam persembunyian—mengajak pendukung Maduro untuk justru melawan rezim tersebut. Dalam pesan suara yang ditujukan kepada aparat keamanan dan Angkatan Bersenjata, ia meminta mereka menjadi “pahlawan, bukan kriminal” dan turut membangun “masa depan Venezuela yang cemerlang”.
Spekulasi meningkat setelah laporan bahwa Trump membahas opsi terkait Venezuela dalam pertemuan dengan para penasihat militernya. Namun Trump hanya mengatakan, “Aku tidak bisa memberitahumu apa itu, tetapi kami membuat banyak kemajuan dengan Venezuela.”
Ketegangan meningkat setelah kapal induk USS Gerald R. Ford—kapal induk tercanggih AS—tiba di Laut Karibia sebagai bagian dari operasi anti-narkotika “Operation Southern Spear”. Gugus tempur itu mencakup kapal induk, dua kapal perusak rudal, dan sejumlah kapal pendukung lainnya.
Menurut channelnewsasia.com (17/11), pengerahan ini dilakukan atas perintah Presiden Trump untuk membongkar organisasi kriminal transnasional dan memerangi narco-terorisme. Operasi serupa juga dilakukan di Pasifik timur pada Sabtu, menewaskan tiga tersangka pengangkut narkoba.
Data AFP menunjukkan setidaknya 83 orang tewas sejak operasi anti-penyelundupan dimulai pada September, meski AS belum memberikan bukti bahwa para target benar-benar pelaku penyelundupan. Sejumlah pakar menilai operasi ini mengarah pada praktik pembunuhan di luar proses hukum. (DH)