Putin: Tak perang baru setelah Ukraina sepanjang Barat hormati Rusia

Senin, 22 Desember 2025

image

JAKARTA — Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan tidak akan ada perang baru setelah konflik Ukraina, selama negara-negara Barat menghormati kepentingan strategis Rusia.

Pernyataan tersebut disampaikan Putin dalam acara tahunan Direct Line yang disiarkan televisi nasional Rusia dan berlangsung hampir empat setengah jam.

Menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan operasi militer lanjutan, Putin menepis spekulasi tersebut. Ia menyebut klaim bahwa Rusia berencana menyerang negara-negara Eropa sebagai “omong kosong”.

Menurut Putin, konflik dapat dihindari apabila Barat berhenti mengabaikan kepentingan keamanan Moskow.

“Tidak akan ada operasi apa pun jika Anda memperlakukan kami dengan hormat dan menghormati kepentingan kami,” ujar Putin, merujuk pada ketegangan berkepanjangan antara Rusia dan negara-negara NATO.

Sepertidikutip bbc.com, Minggu (22/12), Putin kembali menyoroti isu ekspansi NATO ke arah timur yang menurutnya telah “menipu” Rusia sejak era runtuhnya Uni Soviet.

Ia menyatakan bahwa jaminan keamanan yang diabaikan Barat menjadi salah satu pemicu utama memburuknya hubungan Rusia dengan Eropa dan Amerika Serikat. Klaim tersebut telah lama dibantah oleh sejumlah pemimpin Barat dan mendiang pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev.

Meski menyatakan kesiapan untuk mengakhiri perang Ukraina secara damai, Putin tidak menunjukkan tanda-tanda kompromi signifikan.

Ia kembali mengulang tuntutan agar Ukraina menarik pasukannya dari wilayah yang sebagian diduduki Rusia dan menghentikan ambisi bergabung dengan NATO. Rusia juga menuntut kendali penuh atas kawasan Donbas di Ukraina timur.

Pernyataan Putin muncul di tengah eskalasi konflik yang masih berlangsung. Beberapa jam setelah acara tersebut, otoritas Ukraina melaporkan serangan rudal Rusia di wilayah Odesa yang menewaskan dan melukai warga sipil. Konflik yang dimulai sejak Februari 2022 itu kini memasuki tahun keempat dengan tekanan internasional yang terus meningkat.

Selain isu geopolitik, Putin juga menyinggung kondisi ekonomi domestik Rusia. Ia mengakui adanya tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan, di tengah kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN). Namun, Kremlin berupaya menampilkan ketahanan ekonomi, termasuk dengan keputusan bank sentral Rusia menurunkan suku bunga acuan.

Pernyataan Putin mempertegas posisi Moskow bahwa stabilitas kawasan Eropa, menurut Rusia, sangat bergantung pada pengakuan dan penghormatan Barat terhadap kepentingan strategisnya.

Namun, tanpa kompromi nyata dari kedua belah pihak, prospek perdamaian jangka pendek di Ukraina masih tetap penuh ketidakpastian.(GA)