Ekonom Apollo: Stagflasi tekan bursa saham 2026, The Fed terjepit?

Senin, 22 Desember 2025

image

JAKARTA -- Risiko stagflasi berpotensi menjadi penghambat utama reli pasar saham global pada tahun depan, seiring ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Partner dan Chief Economist Apollo Global Management, Torsten Slok, menilai kondisi tersebut masih menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Federal Reserve, meski inflasi AS terbaru menunjukkan tanda-tanda mereda.

Menurut Slok, pasar saat ini terlalu optimistis terhadap prospek penurunan suku bunga lanjutan, yang selama ini menjadi pendorong utama penguatan saham. Padahal, tekanan inflasi berisiko kembali meningkat bersamaan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Saya masih melihat stagflasi sebagai risiko nyata, terutama jika pertumbuhan melambat dan inflasi kembali naik dalam enam bulan ke depan,” kata Slok.

Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat membatasi ruang gerak The Fed untuk memangkas suku bunga.

Stagflasi menggambarkan situasi ekonomi yang sulit, di mana pertumbuhan ekonomi melemah sementara inflasi tetap tinggi. Dalam kondisi seperti ini, kebijakan moneter menjadi dilema karena pemangkasan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan justru berisiko memperburuk inflasi.

Secara data, perekonomian AS memang terlihat cukup solid. Produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga diperkirakan tumbuh 3,5%, sementara inflasi tahunan berdasarkan Indeks Harga Konsumen (CPI) November tercatat 2,7%. Namun Sløk menilai angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan risiko ke depan.

Ia menyoroti potensi perlambatan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI). Jika belanja besar perusahaan teknologi terhadap AI tidak menghasilkan imbal hasil sesuai ekspektasi, pertumbuhan ekonomi dapat tertekan, sementara tekanan harga tetap bertahan.

Selain itu, indikator inflasi ke depan masih menunjukkan kewaspadaan. Indeks Harga Jasa ISM berada di level 65,4% pada November, mengindikasikan tekanan harga di sektor jasa masih cukup kuat.

Seperti dikutip businessinsider.com, Sabtu (20/12), Kekhawatiran tersebut juga tercermin di kalangan pembuat kebijakan. Slok mencatat lebih banyak anggota Federal Open Market Committee (FOMC) yang menilai risiko inflasi dan pengangguran cenderung meningkat, dibandingkan yang melihat risiko menurun.

“Fed tampaknya mengantisipasi kemungkinan kenaikan inflasi dan pengangguran secara bersamaan dalam beberapa tahun ke depan,” ujar Sløk.

Di pasar keuangan, prospek penurunan suku bunga semakin tidak pasti.

Meski peluang pemangkasan suku bunga sempat meningkat usai rilis CPI November, investor secara umum masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan terdekat, dengan probabilitas pemangkasan pada Maret yang relatif terbatas.

Jika risiko stagflasi benar-benar terwujud, Sløk menilai salah satu pendorong utama reli pasar saham, harapan pelonggaran moneter, berpotensi kehilangan daya dorongnya pada 2025. (GA)