BRICS makin jauhi dolar, kontrol 50% produksi dan cadangan emas global

Senin, 22 Desember 2025

image

 

JAKARTA – BRICS, Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, sebagai blok ekonomi besar negara berkembang, semakin menjauh dari dolar AS dengan memperkuat akumulasi emas. Aliansi ini kini menguasai sekitar 50% produksi emas global melalui kombinasi output negara anggota dan mitra strategis.

Rusia dan China menjadi motor utama strategi ini. Pada 2024, China memproduksi 380 ton emas, sementara Rusia menyumbang 340 ton. Kedua negara secara sistematis mendiversifikasi cadangan mereka dari aset berbasis dolar ke emas, sejalan dengan perubahan kebijakan moneter di berbagai ekonomi berkembang. Produksi besar ini memastikan BRICS memiliki kontrol signifikan atas pasokan fisik emas dunia.

Namun, seperti dikutip watcher.guru.com, Sabtu (20/12), BRICS tidak hanya memproduksi emas, mereka juga secara aktif menambah cadangan strategis. Total cadangan emas gabungan negara anggota kini melebihi 6.000 ton, dengan Rusia memimpin di 2.336 ton, China 2.298 ton, dan India 880 ton. Brasil menambah 16 ton pada September 2025, pembelian pertama sejak 2021, sehingga total cadangan mereka menjadi 145,1 ton.

Strategi ganda ini, produksi tinggi sekaligus penimbunan cadangan strategis, menempatkan BRICS sebagai pemasok sekaligus pengaruh utama di pasar emas fisik. Antara 2020–2024, bank sentral negara anggota BRICS membeli lebih dari 50% emas global, secara sistematis mengurangi ketergantungan pada aset dolar.

World Gold Council mencatat, bank sentral global membeli lebih dari 1.000 ton emas per tahun sepanjang 2022–2024, menjadikannya periode pembelian terpanjang dalam sejarah modern, yang mencerminkan pergeseran strategis dalam pengelolaan cadangan devisa dan perlindungan nilai aset.

Pelaku pasar global terus mencermati strategi BRICS ini. Investor tambang Kanada, Frank Giustra, dalam Precious Metals Summit di Beaver Creek, Colorado, menyatakan:

“Jika Anda hanya memiliki emas kertas, Anda tidak benar-benar memiliki emas. Ketika krisis datang, emas itu tidak akan ada.”

Selain itu, BRICS mengembangkan infrastruktur keuangan alternatif. Aliansi ini meluncurkan prototipe mata uang berbasis emas bernama “Unit”, terdiri dari 40% emas fisik dan 60% mata uang nasional negara anggota. Program percontohan merilis 100 Unit pada 31 Oktober, masing-masing setara 1 gram emas, sebagai respons terhadap kekhawatiran terhadap keandalan dolar AS dan risiko sanksi ekonomi.

Ekonom Rusia, Yevgeny Biryukov, menegaskan, “Bagi negara BRICS, emas adalah alat perlindungan dari risiko sanksi, respons atas ketidakandalan mitra tradisional, serta aset nyata dengan pengakuan ribuan tahun.”

Sejalan dengan itu, Rusia dan China kini menyelesaikan hampir seluruh perdagangan bilateral mereka menggunakan yuan dan rubel, sementara mata uang lokal mendominasi transaksi di kawasan Uni Ekonomi Eurasia. Proses dedolarisasi ini semakin cepat setelah sanksi Barat terhadap Rusia menyusul invasi ke Ukraina pada Februari 2022.

Dengan menggabungkan produksi tinggi, cadangan strategis, dan pengembangan sistem keuangan berbasis emas, BRICS sedang merombak pengaruh finansial global, menggeser kekuatan dari cadangan Barat ke Asia dan Eurasia, serta menandai era baru pengaruh strategis berbasis aset nyata. (DK)