Topang mata uang, Korea dan Jepang intervensi bersama?

Jumat, 31 Juli 2026

image

SINGAPURA — Jepang dan Korea Selatan disebut melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar mata uang masing-masing. Sejumlah sumber dan analis bahkan menyebut Amerika Serikat kemungkinan turut terlibat dalam operasi tersebut.

Dikutip dari Reuters, intervensi tersebut mendorong yen mencatat penguatan terbesar dalam hampir dua tahun. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, keterlibatan Amerika Serikat dalam intervensi semacam ini dinilai dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap pergerakan yen.

Seorang sumber pasar mengatakan kepada Reuters bahwa Jepang membeli yen dan menjual dolar AS pada perdagangan Kamis (30/7) di New York. Sumber lain menyebut otoritas valuta asing Korea Selatan juga menjual dolar AS pada waktu yang hampir bersamaan.

Sebelumnya, harian Nikkei melaporkan otoritas Amerika Serikat melakukan rate check selama perdagangan berlangsung. Langkah tersebut memunculkan dugaan bahwa Washington ikut terlibat dalam operasi itu.

Rate check merupakan proses ketika otoritas moneter meminta bank menginformasikan nilai tukar untuk menjual suatu mata uang. Langkah tersebut sering kali menjadi sinyal awal sebelum intervensi dilakukan.

Reuters belum dapat memastikan apakah otoritas Amerika Serikat benar-benar melakukan rate check. Sementara itu, Federal Reserve Bank of New York, yang pernah melakukan langkah serupa pada Januari lalu, menolak memberikan komentar.

"Kami menerima dukungan dari Amerika Serikat yang lebih dari sekadar dukungan psikologis, dan saya terus berkomunikasi dengan otoritas terkait," ujar diplomat mata uang utama Jepang, Atsushi Mimura, saat ditanya mengenai kemungkinan intervensi bersama dengan Amerika Serikat.

Intervensi tersebut sempat mengangkat nilai tukar yen pada Kamis (30/7) malam dari level terendah dalam 40 tahun yang sempat dicapai pekan ini. Namun, sebagian penguatan itu terkikis pada Jumat (31/7) setelah Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga acuannya di level 1%, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Pada saat yang hampir bersamaan, won Korea Selatan juga menguat sekitar 2% dan mencapai level tertinggi dalam sembilan bulan.

"Kepentingan kedua negara sejalan. Bagi Jepang dan Korea Selatan, pergerakan won dan yen sangat berkaitan sehingga intervensi bersama dapat melipatgandakan dampaknya," kata analis KB Kookmin Bank Lee Min-hyuk.

Menurut Lee, Amerika Serikat juga berkepentingan agar nilai tukar kedua mata uang tersebut menguat karena Jepang dan Korea Selatan merupakan investor penting di AS. Nilai tukar yang dinilai terlalu tinggi belakangan ini juga menjadi perhatian Washington.

Berdasarkan analisis strategis mata uang Spectra Markets Brent Donnelly, Jepang telah lima kali melakukan intervensi pasar valuta asing bersama Amerika Serikat atau negara-negara G7 sejak 1985. Sementara itu, Jepang tercatat delapan kali melakukan intervensi secara mandiri.

Analisis tersebut juga menunjukkan sebagian besar intervensi bersama bertepatan dengan perubahan arah pergerakan pasangan dolar AS terhadap yen.

Meski demikian, sejumlah analis menilai intervensi saja tidak cukup untuk memperkuat yen dalam jangka panjang. Mereka berpendapat BOJ tetap perlu melanjutkan kenaikan suku bunga, terutama karena posisi spekulatif yang bertaruh terhadap pelemahan yen kini mencapai sekitar US$11,65 miliar.

Pada perdagangan Jumat (31/7), yen berada di level 160,41 per dolar AS atau melemah sekitar 0,5% dibandingkan hari sebelumnya. Sebelumnya, mata uang Jepang itu sempat menguat hingga 157,8 per dolar AS.

BOJ pada Jumat (31/7) tetap mempertahankan suku bunga di level 1%, yang merupakan level tertinggi dalam 31 tahun. Namun, untuk pertama kalinya bank sentral memperingatkan inflasi inti berpotensi melampaui targetnya. Sinyal tersebut membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dikenal mendukung suku bunga rendah dan meningkatan belanja pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sikap tersebut juga membuat pasar semakin sensitif terhadap risiko inflasi dan memberi tekanan terhadap yen dalam beberapa bulan terakhir.

Anggota dewan BOJ, Hajime Takata, menjadi satu-satunya pejabat yang menolak keputusan untuk mempertahankan suku bunga. Ia mengusulkan agar suku bunga dinaikkan menjadi 1,25% sebagai respons terhadap meningkatnya risiko inflasi akibat guncangan permintaan dari luar negeri.

"Saya kira hanya ada satu suara yang berbeda. Artinya, belum terlihat adanya pandangan yang luas di kalangan pejabat BOJ bahwa kenaikan suku bunga memang diperlukan," kata Kepala Strategi Makro Nomura Securities, Naka Matsuzawa.

Menurut Matsuzawa, kondisi saat ini merupakan peluang bagi otoritas Jepang untuk mengubah arah pergerakan yen, terutama ketika ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai mereda.

"Namun pada akhirnya, saya rasa Takaichi sendiri belum siap mengambil langkah tersebut," ujarnya.

Sementara itu, won Korea Selatan sempat menyentuh level terendah dalam 17 tahun, yakni 1.561,50 per dolar AS, bulan lalu. Pada perdagangan Jumat (31/7), won berada di level 1.437,62 per dolar AS atau melemah hampir 1% dibandingkan hari sebelumnya. Meski demikian, mata uang tersebut masih menguat hampir 8% sepanjang bulan ini berkat arus repatriasi dolar oleh perusahaan-perusahaan Korea Selatan.

Awal bulan ini, SK Hynix menghimpun dana sebesar US$26,5 miliar melalui penawaran saham di Amerika Serikat. Menurut sumber Reuters, perusahaan kemudian mengonversi sebagian dana hasil penerbitan American depositary receipts (ADR) tersebut ke dalam won.

"Pasar sempat mempertanyakan apakah nilai tukar akan kembali naik setelah penawaran ADR selesai," kata Lee.

"Setelah proses ADR berakhir dan Jepang melakukan intervensi untuk menopang yen, otoritas kami kemungkinan memanfaatkan momentum tersebut untuk menekan nilai tukar dan mematahkan ekspektasi pasar terhadap pelemahan won." (ARF)