Yield AS naik ke level tertinggi 19 tahun, pasar tantang Kevin Warsh?
Jumat, 31 Juli 2026
WASHINGTON — Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, menghadapi dilema dalam menentukan arah kebijakan moneter setelah pasar obligasi bereaksi negatif terhadap pernyataannya mengenai inflasi.
Di satu sisi, ia mendapat tekanan untuk tetap mendukung suku bunga rendah seperti yang diinginkan Presiden Donald Trump. Di sisi lain, semakin banyak pejabat The Fed yang mendorong kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi.
Dikutip dari Reuters, Warsh menegaskan inflasi harus ditekan. Namun, ia tidak memberi sinyal bahwa The Fed siap menaikkan suku bunga.
Sikap tersebut memicu aksi jual di pasar obligasi sehingga imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak di atas 5,2% pada Rabu (29/7). Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam 19 tahun dan kembali meningkat pada Kamis (30/7).
Situasi semakin rumit setelah Warsh memberi sinyal bahwa The Fed dapat meninjau kembali tolok ukur inflasi. Selama ini, bank sentral menggunakan target inflasi tahunan sebesar 2% berdasarkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE).
"Itu tetap menjadi target kami dan kami akan mempertahankannya," kata Warsh dalam konferensi pers usai rapat kebijakan moneter yang telah berlangsung selama dua hari.
Namun, ia menambahkan bahwa strategi tersebut dapat berubah setelah Januari tahun depan. Menurutnya, satuan tugas yang dibentuk The Fed kemungkinan akan memberikan rekomendasi baru.
Pada Mei lalu, Warsh menunjuk 15 pakar independen untuk mengkaji pelaksanaan kebijakan moneter, termasuk kerangka target inflasi. Tim tersebut dijadwalkan akan menyampaikan rekomendasinya pada akhir 2026.
Warsh mengatakan akan bertemu dengan tim tersebut dalam beberapa pekan ke depan. Ia juga membuka kemungkinan untuk menyampaikan rekomendasi yang sudah matang pada simposium bank sentral dunia di Jackson Hole, Wyoming, pada akhir Agustus 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir, forum Jackson Hole kerap dimanfaatkan para ketua The Fed untuk memberi petunjuk mengenai arah kebijakan pada pertemuan September. Namun, Warsh sejauh ini tetap berpegang pada komitmennya untuk tidak memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga.
Menurut Kepala Ekonom Global Citigroup, Nathan Sheets, lonjakan imbal hasil obligasi jangka panjang merupakan sinyal bahwa pasar mulai kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan The Fed mengendalikan inflasi.
"Di lingkungan The Fed, kondisi seperti ini hampir dipandang sebagai bentuk mosi tidak percaya dari pasar terhadap kemauan dan kemampuan bank sentral untuk menurunkan inflasi," ujarnya.
Sheets menilai Warsh hanya menegaskan bahwa inflasi merupakan masalah tanpa menjelaskan langkah konkret untuk mengatasinya.
"Pesan yang disampaikan seolah hanya, 'Saya seorang hawkish, percayalah kepada saya.' Padahal pasar menginginkan lebih dari itu," katanya.
Menurut Sheets, Warsh juga harus menjaga keseimbangan antara sikapnya yang cenderung hawkish dan tekanan politik dari Gedung Putih yang menginginkan suku bunga lebih rendah. Ia memperkirakan Warsh harus menentukan sikap paling lambat pada pertemuan The Fed September mendatang.
Tekanan juga datang dari internal The Fed. Tiga dari 12 anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang memiliki hak suara menyatakan perbedaan pendapat dalam rapat Rabu (39/7) karena menolak keputusan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%.
Para analis memperkirakan lebih banyak pejabat The Fed akan menyampaikan pandangannya dalam beberapa hari dan pekan mendatang. Hal itu dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi jangka panjang yang dinilai sebagai sinyal peringatan serius bagi pasar.
Strategis Global Valas dan Suku Bunga Macquarie Group, Thierry Wizman, menilai bahwa para presiden bank sentral regional kemungkinan akan lebih terbuka menyampaikan pandangan mereka.
"Mereka kemungkinan akan berupaya meredakan kekhawatiran pasar dan menegaskan bahwa mereka, jika bukan Warsh, siap memperketat kebijakan moneter," ujarnya.
Sebelum rapat pekan ini, Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, dan Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, sudah menyampaikan keberatan terhadap rencana mempertahankan suku bunga di tengah inflasi yang masih meningkat.
Sejumlah pejabat lain yang mendukung keputusan Warsh, termasuk anggota Dewan Gubernur The Fed Christopher Waller dan Lisa Cook, juga mengatakan mereka terbuka mendukung kenaikan suku bunga jika inflasi tidak segera membaik.
Data Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (BEA) yang dirilis Kamis (30/7) menunjukkan bahwa inflasi PCE melambat menjadi 3,7% pada Juni dari 4,1% pada Mei 2026. Sementara itu, inflasi inti PCE turun tipis menjadi 3,3% dari 3,4%.
Perbaikan tersebut sudah diperkirakan pasar setelah sejumlah data inflasi lain dirilis awal bulan ini. Namun, para pembuat kebijakan masih mengkhawatirkan tekanan harga akibat konflik di Timur Tengah serta lonjakan investasi pada teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dalam laporan terpisah, BEA juga melaporkan belanja modal perusahaan untuk peralatan tumbuh 15,2% pada kuartal II. Angka itu menandai dua kuartal berturut-turut dengan pertumbuhan dua digit.
Sejauh ini, Trump belum mengkritik Warsh karena belum menurunkan suku bunga. Presiden AS itu justru menyalahkan anggota Dewan Gubernur The Fed lainnya.
Kepala Ekonom AS SGH, Macro Advisors Tim Duy, mengatakan bahwa anggota dewan telah memberi sinyal kepada Warsh bahwa mereka akan mendorong kenaikan suku bunga pada September jika inflasi tidak mereda secara signifikan selama musim panas.
"Jika Warsh ternyata lebih dovish daripada yang selama ini dipersepsikan, dukungannya di dewan untuk kembali mempertahankan suku bunga akan semakin berkurang apabila inflasi tetap tinggi," tulis Duy dalam catatannya. (ARF)