Akan intervensi bantu yen Jepang, Amerika minta perbankan bersiap

Sabtu, 01 Agustus 2026

image

JAKARTA - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS), memberi tahu sejumlah bank bahwa pihaknya kemungkinan akan melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk mendukung penguatan yen Jepang pada Jumat (1/8).

Informasi tersebut disampaikan melalui Federal Reserve Bank of New York, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Seperti dikuti Reuters, pemberitahuan itu muncul sehari setelah otoritas Jepang melakukan intervensi untuk menopang nilai tukar yen.

Kabar mengenai kemungkinan intervensi oleh Departemen Keuangan AS langsung memperkuat yen di pasar.

Pada perdagangan Jumat, yen berada di level 159,09 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya sempat melemah hingga 163,65 per dolar AS.

Hingga kini belum diketahui mekanisme intervensi yang akan digunakan Treasury AS. Federal Reserve sendiri telah mempertahankan fasilitas dollar pertukaran likuiditas dengan Bank of Japan (BOJ) dan empat bank sentral utama lainnya sejak 2013.

Diplomat mata uang utama Jepang, Atsushi Mimura, menolak mengomentari secara langsung aksi intervensi.

Namun, ia mengisyaratkan adanya keterlibatan AS dalam upaya menahan pelemahan yen, termasuk melalui rate checks atau permintaan kuotasi indikatif dolar AS/yen kepada pelaku pasar yang umumnya menjadi sinyal awal sebelum intervensi dilakukan.

Mimura menambahkan bahwa dukungan AS terhadap Jepang "melampaui dukungan psikologis."

Analis Strategi Mata Uang MUFG di London, Lee Hardman, menilai laporan Reuters mengenai pemberitahuan treasury kepada perbankan memperkuat ekspektasi pasar terhadap potensi intervensi lanjutan.

"Laporan Reuters tentang pemberitahuan Departemen Keuangan kepada bank-bank mengenai potensi intervensi sesuai dengan pandangan di pasar bahwa Federal Reserve New York telah melakukan pengecekan suku bunga, sehingga menambah kegelisahan para pelaku pasar bahwa mungkin ada intervensi lebih lanjut," katanya.

"Ini jelas membantu mendukung gagasan bahwa ada risiko intervensi yang mungkin terjadi."

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent melalui unggahan di media sosial X mengatakan Treasury memiliki hubungan yang kuat dan koordinasi yang erat dengan otoritas Jepang, meski tidak mengonfirmasi persiapan intervensi tersebut.

Ia juga menyatakan akan bertemu Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 yang akan digelar di Asheville, North Carolina, pada akhir Agustus.

"Perekonomian Jepang terus menunjukkan kinerja yang baik di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Kishida, Gubernur Ueda, dan Dewan Bank of Japan, yang telah menunjukkan komitmen kuat terhadap stabilitas moneter dan keuangan," kata Bessent.

Sehari sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox Business Network, Bessent menyebut yen berada jauh di bawah nilai wajarnya. Ia menilai kebijakan pemerintah Jepang memperkuat fundamental ekonomi negara tersebut.

Bessent mengatakan bahwa yen tampaknya sangat 'undervalued' (di bawah nilai wajarnya).

Ia juga menambahkan bahwa Amerika berpendapat volatilitas berlebihan pada yen tidaklah sehat dan nilai yen telah jauh melampaui apa yang bisa disebut sebagai harga keseimbangan.

Terakhir kali Departemen Keuangan AS melakukan intervensi langsung untuk mendukung yen terjadi pada 2011 melalui aksi terkoordinasi negara-negara G7 setelah gempa bumi dan tsunami besar melanda Jepang.

Selain Jepang, Treasury AS juga pernah melakukan intervensi di pasar peso Argentina menjelang pemilu parlemen tahun lalu. Pemerintah AS saat itu menyediakan fasilitas swap mata uang senilai US$20 miliar bagi pemerintahan Presiden Javier Milei untuk membantu menstabilkan mata uang dan pasar obligasi dolar Argentina.

Sebagian dukungan tersebut berasal dari Exchange Stabilization Fund (ESF), yang per 30 Juni memiliki total aset sekitar US$217 miliar.(DH)