Kurva yield obligasi Amerika 'twist' makin curam, apa artinya?
Sabtu, 01 Agustus 2026
JAKARTA - Pergerakan kurva imbal hasil (yield curve) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) berubah semakin curam setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya pekan ini.
Penurunan imbal hasil obligasi tenor pendek yang terjadi bersamaan dengan kenaikan tajam imbal hasil tenor panjang dinilai menunjukkan meningkatnya keraguan investor terhadap komitmen The Fed dalam menekan inflasi.
Setelah keputusan The Fed mempertahankan suku bunga, imbal hasil obligasi pemerintah AS sempat turun di seluruh tenor karena pelaku pasar menyambut absennya kenaikan suku bunga. Namun, pergerakan tersebut segera berubah.
Imbal hasil obligasi tenor pendek terus melemah, sedangkan imbal hasil obligasi tenor panjang meningkat tajam. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun bahkan menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun, sehingga memperlebar kemiringan kurva imbal hasil.
Seperti dikutip Reuters, Head of Macro and Investment Grade Strategy CreditSights, Zachary Griffiths, menyebut pergerakan tersebut sebagai "penguat putaran" dan "respons yang tidak sehat" terhadap keputusan kebijakan The Fed.
Pelebaran kurva berlanjut pada perdagangan Kamis, baik pada selisih imbal hasil obligasi tenor 2 tahun dan 10 tahun maupun tenor 2 tahun dan 30 tahun.
Managing Director Fixed Income Truist Wealth, Chip Hughey, mengatakan pola tersebut menunjukkan pasar tidak lagi memperkirakan The Fed akan memulai siklus kenaikan suku bunga yang agresif.
"Perubahan pada kurva tersebut menunjukkan bahwa pasar berpikir The Fed tidak akan meluncurkan siklus kenaikan suku bunga yang agresif," katanya.
"Itu mungkin berpotensi baik untuk pertumbuhan, tetapi hal itu menambah ketidakpastian dalam upaya The Fed memerangi inflasi."
Sejumlah analis menilai keputusan The Fed mempertahankan suku bunga didasarkan pada kondisi keuangan yang telah mengetat secara signifikan tanpa tambahan kebijakan moneter.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, berpendapat pasar telah melakukan sebagian besar penyesuaian tersebut secara mandiri.
Menurutnya, kenaikan imbal hasil obligasi nominal maupun riil mencerminkan respons investor terhadap data ekonomi terbaru, bukan semata-mata dipengaruhi panduan kebijakan bank sentral.
Sepanjang Juli, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah meningkat sekitar 25 basis poin, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Maret.
Dalam kondisi normal, kurva imbal hasil yang semakin curam umumnya mencerminkan ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga atau berakhirnya siklus kenaikan suku bunga. Namun kali ini pergerakan berbeda karena imbal hasil tenor pendek justru turun sementara tenor panjang terus naik.
Analis menilai perubahan tersebut juga dipicu oleh berkurangnya ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Juli atau memberikan sinyal pengetatan lanjutan setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Head of U.S. Rates Strategy BNP Paribas, Guneet Dhingra, mengatakan perubahan kurva menunjukkan sebagian kredibilitas The Fed dalam memerangi inflasi mulai memudar dibandingkan setelah pertemuan kebijakan pada Juni.
Sementara itu, Global Co-Head of Fixed Income Azimut Group, Nicolò Bocchin, menilai pasar masih berupaya menyesuaikan diri dengan pendekatan komunikasi baru The Fed.
"Pasar menjadi bingung akibat pendekatan baru The Fed yang memberikan panduan lebih sedikit," katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat investor semakin mencermati risiko inflasi dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi tenor panjang.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data ketenagakerjaan nonfarm payrolls Amerika Serikat periode Juli pada pekan depan sebagai indikator utama arah kebijakan moneter berikutnya.
Griffiths mengatakan data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat pandangan bahwa The Fed seharusnya menaikkan suku bunga pada pertemuan kali ini sehingga pelebaran kurva imbal hasil berpotensi berlanjut.
Sebaliknya, apabila data lebih lemah, kekhawatiran bahwa The Fed tertinggal dalam mengendalikan inflasi dapat mereda dan memicu pembalikan arah pergerakan pasar.(DH)