Exxon dan Chevron prediksi harga BBM tetap tinggi akibat Iran

Minggu, 02 Agustus 2026

image

JAKARTA - ExxonMobil dan Chevron memperkirakan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya diesel dan produk olahan lainnya, akan tetap tinggi hingga paruh kedua 2026.

Seperti dikutip Reuters, kedua raksasa energi Amerika Serikat (AS) itu melaporkan lonjakan laba segmen pengilangan (refining) pada kuartal II-2026. Kinerja tersebut ditopang menurunnya stok bahan bakar global, berkurangnya ekspor produk olahan dari China, serta gangguan operasional kilang di Rusia yang mendorong kenaikan margin pengilangan.

Chief Executive Officer (CEO) Chevron Mike Wirth mengatakan tekanan kenaikan harga produk energi diperkirakan masih berlanjut pada kuartal III bahkan setelahnya.

"Kita akan melihat adanya tekanan kenaikan pada harga produk... hingga kuartal ketiga dan mungkin melampaui periode tersebut."

Ia menambahkan permintaan terhadap produk distilat, termasuk diesel dan minyak pemanas (heating oil), diperkirakan tetap kuat dalam jangka panjang.

Kenaikan margin kilang terjadi ketika harga bensin di Amerika Serikat kembali melampaui US$4 per galon pada pekan lalu. Kondisi tersebut menjadi tantangan politik bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilu sela Kongres pada November mendatang.

Meski demikian, Exxon dan Chevron menyatakan terus mengoptimalkan produksi untuk menjaga pasokan energi.

Exxon mengungkapkan seluruh kilang di AS beroperasi pada tingkat utilisasi tinggi dan mencatat rekor produksi diesel selama kuartal II. Sementara itu, Chevron membukukan rekor tingkat pengolahan lebih dari 1 juta barel per hari di kilang-kilangnya di AS.

CEO Exxon Darren Woods menilai kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz menjadi faktor penting untuk memulihkan pasokan minyak mentah ke pasar global.

"Tingkat pemanfaatan yang kita amati saat ini tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Jadi, menurut saya, tantangan di sektor pengilangan ini akan terus dihadapi dunia untuk beberapa waktu ke depan."

Woods menambahkan Exxon memiliki jaringan kilang terbesar di dunia di luar China. Namun, terganggunya pasokan minyak mentah akibat konflik turut meningkatkan tantangan pada bisnis hilir perusahaan.

Di sisi lain, aktivitas pemeliharaan kilang diperkirakan tetap membebani kinerja perusahaan pada kuartal III. Chevron memperkirakan penghentian operasional sementara (downtime) akan mengurangi laba segmen hilir sekitar US$175 juta hingga US$225 juta.

Sementara itu, Exxon menyatakan jadwal pemeliharaan pada kuartal III akan lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pada kuartal II, laba disesuaikan segmen hilir Exxon meningkat menjadi US$4,1 miliar. Namun, analis RBC Capital Markets Biraj Borkhataria menilai sebagian investor kemungkinan mengharapkan hasil yang lebih tinggi mengingat besarnya kapasitas pengilangan yang dimiliki perusahaan.

Secara keseluruhan, laba kuartal II Exxon sedikit di bawah ekspektasi pasar, sedangkan Chevron berhasil melampaui proyeksi analis. Setelah pengumuman kinerja keuangan tersebut, saham Exxon turun sekitar 1%, sementara saham Chevron menguat sekitar 2%.(DH)