Penjualan lesu, laba Toyota diperkirakan turun 5 kuartal beruntun

Senin, 03 Agustus 2026

image

JAKARTA – Toyota Motor Corp. diperkirakan membukukan penurunan laba operasional kuartalan untuk kelima kalinya secara berturut-turut saat merilis laporan keuangan pada Selasa (4/8). 

Seperti dikutip Reuters, pelemahan penjualan kendaraan dan kenaikan biaya produksi diperkirakan menekan kinerja perusahaan.

Sementara investor juga mencermati dampak gempa yang mengguncang Jepang selatan pekan lalu.

Produsen mobil terbesar di dunia itu diproyeksikan mencatat laba operasional sebesar 1,11 triliun yen (US$7,04 miliar) pada periode April–Juni, turun 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, berdasarkan median estimasi delapan analis yang dihimpun LSEG.

Analis menilai pelemahan volume penjualan di sejumlah pasar luar negeri serta meningkatnya biaya di sepanjang rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang membebani kinerja selama kuartal tersebut.

Penjualan global kendaraan Toyota dan Lexus turun 3% menjadi sedikit di atas 2,5 juta unit pada kuartal pertama.

Penurunan tajam di China dan Timur Tengah lebih besar dibandingkan pertumbuhan penjualan yang terjadi di Amerika Serikat.

Selain hasil keuangan, investor juga akan mencermati dampak gempa yang melanda Pulau Kyushu pekan lalu. 

Bencana tersebut mengganggu produksi pemasok komponen dan memaksa Toyota menghentikan operasi di empat pabrik domestiknya.

Toyota menghentikan produksi di tiga pabrik di wilayah tersebut hingga Rabu serta menutup sementara satu pabrik lain di Jepang tengah hingga Jumat. 

Dua dari empat fasilitas tersebut merupakan pabrik perakitan kendaraan.

Ketidakpastian semakin terlihat setelah pemasok komponen Aisin menyatakan belum dapat memastikan kapan produksi di pabrik yang terdampak gempa di dekat pusat gempa dapat kembali beroperasi. 

Sekitar 200 pekerja masih melakukan upaya pemulihan di lokasi tersebut.

Secara regional, penjualan Toyota di China anjlok 28% pada kuartal tersebut, sementara penjualan di Timur Tengah turun sepertiga dibandingkan tahun sebelumnya.

Analis otomotif CLSA, Christopher Richter, mengatakan kinerja kuartal pertama kemungkinan lebih lemah dari perkiraan karena volume penjualan berada di bawah ekspektasi.

Ia menambahkan, Toyota juga mencatat penurunan penjualan di Oseania dan Amerika Latin, di tengah ekspansi agresif produsen mobil China seperti BYD dan merek-merek lainnya. Penjualan Toyota di Oseania turun 16%, sedangkan di Amerika Tengah dan Selatan melemah 5%.

Konflik di Timur Tengah yang dimulai pada akhir Februari juga meningkatkan harga bahan baku seperti aluminium dan nafta serta mengganggu pengiriman kendaraan ke kawasan tersebut.

Di Amerika Serikat, Toyota turut menghadapi tekanan akibat transisi model SUV RAV4 generasi lama menuju versi terbaru dari salah satu model terlarisnya di pasar global.

Menurut Richter, investor akan menunggu penjelasan mengenai kapan penjualan RAV4 versi baru diperkirakan mulai meningkat.

Analis juga akan mencermati apakah Toyota akan merevisi proyeksi laba operasional sebesar 3 triliun yen untuk tahun buku berjalan, mengingat kenaikan biaya bahan baku dan gangguan produksi akibat gempa masih membayangi prospek perusahaan. (DK)