Rentetan ARA SUPA terbongkar, langsung terjun sentuh ARB
Senin, 22 Desember 2025

JAKARTA – Setelah mencetak harga tertinggi selama tiga hari berturut-turut sejak debutnya pada 17 Desember 2025 lalu, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) hari ini ambles 14,63%, mendarat di harga batas auto-reject bawah (ARB).
Sejak resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham SUPA tercatat tiga kali menyentuh auto-reject atas (ARA), melambung 93,7% pada penutupan Jumat (19/12) pekan lalu.
Padahal, antrean beli SUPA pada akhir pekan kemarin mencapai 5 juta lot saham. Namun, hingga akhir perdagangan Senin (22/12), investor justru mengantre jual 1,46 juta lot di harga Rp1.050.
Di sisi lain, berdasarkan data running trade Stockbit, masih terdapat pembelian saham dalam jumlah lot yang cukup besar di pasar negosiasi.
Misalnya, terdapat pembelian 211,2 ribu lot dan 192 ribu lot saham SUPA di harga Rp1.050 pada sesi II perdagangan hari ini, Senin (22/12).
Dengan “terbongkarnya” rentetan ARA saham SUPA, IPO senilai Rp2,80 triliun ini hanya bertahan tiga hari, jauh dari rekor IPO lighthouse lainnya, seperti IPO Rp2,37 triliun PT Chandra Daya Investasi (CDIA), yang mampu mencatat rekor 11 kali ARA berturut-turut sejak debutnya di pasar modal.
Bahkan SUPA masih kalah dengan emiten yang juga melantai awal Desember 2025, yaitu PT Abadi Lestri Indonesia Tbk (RLCO), yang notabene hanya memiliki nilai IPO Rp105 miliar dan market cap Rp4,2 triliun per Senin (22/12).
Saham RLCO kini dikenakan penghentian perdagangan sementara (suspensi) keduanya oleh BEI akibat kenaikan harga kumulatif yang signifikan sejak tercatat di papan bursa pada 8 Desember 2025 lalu.
Sebagai catatan, harga saham RLCO sudah meroket 691,67% dari harga IPO-nya di level Rp168 per lembar, ditutup di Rp1.330 pada Jumat (19/12) pekan lalu. (ZH)