PGEO bidik produksi green hydrogen akhir 2026, Toyota pembeli perdana
Selasa, 04 Agustus 2026
JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) tengah menyiapkan operasional pilot project untuk green hydrogen, yang ditargetkan beroperasi pada kuartal IV 2026. Toyota menjadi salah satu calon pembeli awal produksi hidrogen hijau tersebut.
Menurut Ahmad Yani, Presiden Direktur PGEO, pilot project green hydrogen tersebut akan dimulai di Wilayah Kerja Ulubelu di Lampung, dengan target beroperasi komersial (COD) pada November 2026.
Kini, proyek memasuki tahapan fabrikasi, dilanjutkan instalasi alat pada Oktober.
Dalam sesi pemaparannya di acara Media Briefing PGEO 2026, Selasa (4/8), Perseroan juga menargetkan proyek tersebut akan menghasilkan 100 kilogram (kg) hidrogen per hari.
“Kami mulai dari skala lab, small scale,” imbuh Andi Joko Nugroho, Direktur Operasi PGEO, pada kesempatan yang sama.
Salah satu pembeli pertama pada tahap awal produksi green hydrogen ini, ungkap Andi, adalah Toyota.
Toyota diketahui telah meneken nota kesepahaman (MoU) untuk membeli sekitar 20 kg hidrogen dari PGEO untuk keperluan internalnya.
Sementara itu, hasil produksi lainnya akan dialihkan untuk pemakaian internal Pertamina, seperti Kilang Plaju dan Terminal LPG Tanjung Sekong.
Menurut Ahmad Yani, pengembangan green hydrogen ini merupakan bagian dari upaya PGEO untuk mencari potensi aliran pendapatan baru atau new revenue stream, dari segmen lain di luar inti bisnis panas bumi atau geothermal.
Ahmad Yani menilai bahwa alih-alih hanya mengejar target RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) yang ditetapkan pemerintah, PGEO memandang perlu untuk mengakselerasi potensi dari hilirisasi dan industrialisasi geothermal.
“Jadi, masa depan geothermal itu bukan hanya diukur melalui bagaimana menghasilkan energi bersih dalam bentuk listrik, tetapi juga ada produk lain yang bisa kita kembangkan. Nah, dalam hal ini seperti green hydrogen,” jelasnya.
Di sisi lain, manajemen mengakui bahwa keberlanjutan dari proyek green hydrogen tersebut akan tergantung pada tren permintaan atau demand dari pasar. Oleh karena itu, Perseroan juga mempertimbangkan kesiapan ekosistem hidrogen.
“Dalam 2–3 tahun ke depan, kita akan coba bagaimana menjadi suatu bisnis yang real,” tambah Ahmad Yani.
Perseroan juga meyakini bahwa pasar hidrogen global memiliki prospek yang menjanjikan pada periode 2030–2034 mendatang.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi, bahkan menyebutkan bahwa terdapat potensi green hydrogen diproses lebih lanjut menjadi green ammonia. “Itu kajiannya sudah berlangsung,” katanya. (ZH)