Intervensi AS-Jepang angkat yen, analis ragukan keberlanjutannya
Selasa, 04 Agustus 2026
SINGAPURA — Intervensi bersama Amerika Serikat dan Jepang berhasil mengangkat nilai tukar yen dalam beberapa hari terakhir. Namun, sejumlah analis menilai penguatan tersebut sulit bertahan karena fundamental mata uang Jepang masih lemah.
Dikutip dari CNBC, yen sempat menguat sekitar 5% setelah intervensi bersama kedua negara. Nilai tukarnya naik ke kisaran 157 per dolar AS dari sebelumnya di atas 163 per dolar AS, yang merupakan level terendah dalam empat dekade.
Meski demikian, pelaku pasar menilai intervensi saja belum cukup untuk membalikkan tren pelemahan yen.
Strategis UBS, Teck Leng Tan dan Dominic Schnider, mengatakan bahwa kombinasi kebijakan ekonomi Jepang belum mampu menciptakan penguatan yen yang berkelanjutan.
Menurut mereka, normalisasi kebijakan BOJ diperkirakan tetap berlangsung secara bertahap. Di sisi lain, suku bunga riil Jepang masih berada di wilayah negatif.
Kondisi tersebut membuat yen lebih banyak ditopang oleh risiko intervensi pemerintah dibandingkan fundamental kebijakan moneternya.
Peran BOJ
Sejumlah analis menilai perubahan arah kebijakan BOJ menjadi faktor terpenting untuk menopang penguatan yen dalam jangka panjang.
HSBC menilai yen sulit memasuki tren penguatan yang berkelanjutan jika BOJ tidak mempercepat kenaikan suku bunga.
Pemerintah Jepang juga dinilai perlu menunjukkan sikap yang lebih tegas dalam mendukung penguatan yen serta mengurangi ambisi ekspansi fiskal.
Di sisi lain, muncul laporan bahwa Departemen Keuangan AS kemungkinan menggunakan euro, bukan dolar AS, untuk membeli yen dalam intervensi terbaru.
Pada intervensi yang dilakukan Jepang pada 2022 dan 2024, otoritas moneter menjual dolar AS untuk membeli yen. Kali ini, meski Jepang diyakini tetap menggunakan skema yang sama, sejumlah laporan menyebut pemerintah AS justru menjual euro untuk mendukung pembelian yen.
Meski begitu, reaksi dolar AS terhadap intervensi tersebut relatif terbatas.
Kepala Pasar ING Chris Turner menilai ketahanan dolar AS dipengaruhi ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve pada September. Ekspektasi kenaikan suku bunga masih menopang imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menjaga permintaan terhadap aset tersebut.
Efektivitas Dipertanyakan
Sejumlah pengamat juga mempertanyakan efektivitas intervensi terbaru tersebut.
Peneliti Senior Brookings Institution Robin Brooks menilai penggunaan euro dalam intervensi justru berpotensi melemahkan kepercayaan pasar terhadap yen.
Menurut Brooks, jika pemerintah AS benar-benar menjual euro, investor bisa menafsirkan langkah tersebut sebagai upaya menghindari penjualan obligasi pemerintah AS yang dimiliki Jepang untuk membiayai intervensi.
Ia menilai penggunaan euro juga berbeda dari praktik intervensi bersama yang selama ini umumnya didanai menggunakan aset dalam bentuk dolar AS.
"Langkah seperti ini justru membuat pasar bertanya mengapa AS tidak menggunakan dolar AS secara langsung untuk membeli yen," ujar Brooks. (ARF)