Iran tekan AS lewat jalur energi dan pelayaran

Rabu, 05 Agustus 2026

image

BEIRUT — Iran dinilai mengubah strategi untuk menghadapi Amerika Serikat dengan memperluas tekanan terhadap jalur perdagangan, pelayaran, dan infrastruktur energi di Timur Tengah.

Langkah tersebut bertujuan untuk meningkatkan biaya yang harus ditanggung Washington jika konflik terus berlanjut.

Dikutip dari Reuters, sejumlah pejabat Teluk dan analis menilai bahwa Teheran tidak lagi mengejar kemenangan militer secara langsung. Sebaliknya, Iran memilih meningkatkan eskalasi secara bertahap untuk memperluas konflik tanpa memicu terjadinya perang.

Melalui strategi tersebut, Iran ingin meyakinkan Amerika Serikat dan sekutunya bahwa meredakan krisis akan lebih menguntungkan daripada menolak tuntutan Teheran terkait Selat Hormuz.

Iran juga berupaya menunjukkan bahwa konflik dapat meluas ke luar kawasan Teluk apabila Washington tidak menerima tatanan baru yang memberi Teheran peran lebih besar dalam pengelolaan Selat Hormuz.

Menurut para analis, ancaman terhadap sejumlah jalur pelayaran dan infrastruktur energi menjadi cara Iran memperkuat posisi tawarnya menjelang kemungkinan perundingan baru.

"Iran sejak awal berupaya untuk terus meningkatkan eskalasi sehingga selalu memiliki kartu baru setiap pekannya, baik berupa wilayah baru, jenis senjata baru, maupun target baru," kata analis Washington Institute Michael Knights.

Menurutnya, keunggulan utama Iran bukan terletak pada kemampuannya menyerang Amerika Serikat atau Israel secara langsung.

"Keunggulan terbesar mereka adalah kemampuan memberikan tekanan kepada negara-negara di kawasan dan perekonomian global," ujarnya.

Tekanan Meluas

Setelah menunjukkan kemampuannya mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, Iran kini memberi sinyal bahwa ancamannya tidak hanya terbatas di kawasan tersebut.

Ancaman terhadap Laut Merah dan infrastruktur energi Arab Saudi dinilai bertujuan untuk meningkatkan biaya dalam perlindungan perdagangan global.

Seorang sumber di kawasan Teluk mengatakan para komandan Garda Revolusi Iran meyakini bahwa mereka masih memiliki ruang untuk meningkatkan tekanan.

Mereka juga menilai Presiden AS, Donald Trump, enggan terlibat lebih jauh dalam konflik Timur Tengah menjelang pemilu pada November mendatang.

"Para pemimpin Iran percaya semakin luas konflik dan semakin besar tekanannya, pada akhirnya Trump akan mengalah," kata sumber tersebut.

Menurutnya, Trump berharap dapat memaksa Iran kembali ke meja perundingan melalui tekanan militer. Namun, Teheran diyakini tidak akan menyerah begitu saja.

Perhitungan tersebut menjadi dasar strategi negosiasi Iran.

Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran dijadwalkan berlangsung pada Senin.

Sebelumnya, ia membatalkan rencana serangan untuk memberi peluang bagi tercapainya kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Namun, Teheran membantah sedang berunding dengan Washington.

Strategi Iran 

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepemimpinan negara itu menilai sikap lunak yang pernah ditempuh sebelumnya justru memicu tekanan yang lebih besar dari Amerika Serikat.

Karena itu, Teheran meyakini posisi tawar harus diperkuat terlebih dahulu sebelum memulai negosiasi yang bermakna.

Mantan diplomat Amerika Serikat sekaligus pakar Iran, Alan Eyre, menilai strategi Teheran bertujuan memaksa Washington mencabut blokade dan menghentikan serangan militernya.

"Mereka tidak ingin Amerika Serikat mengendalikan jalannya konflik," ujarnya.

Di sisi lain, Oman telah mengajukan usulan yang didukung negara-negara Teluk mengenai pengelolaan Selat Hormuz, termasuk penerapan biaya layanan secara sukarela bagi pengguna jalur tersebut.

Namun, Iran ingin memiliki wewenang mengelola Selat Hormuz, termasuk menarik biaya layanan dari kapal yang melintas. Di sisi lain, Amerika Serikat menolak usulan tersebut dan menegaskan Selat Hormuz harus tetap menjadi jalur pelayaran internasional yang tidak berada di bawah kendali Iran.

Strategi Iran mulai memengaruhi respons negara-negara kawasan dan Barat.

Alih-alih meningkatkan tekanan terhadap Teheran, perhatian mereka kini lebih banyak diarahkan untuk melindungi jalur perdagangan dan infrastruktur energi.

Salah satu contohnya adalah pembentukan koalisi maritim yang dipimpin Arab Saudi. Menurut sejumlah sumber, koalisi tersebut berfokus untuk mengawal kapal dagang, berbagi informasi intelijen, dan menjaga keamanan jalur pelayaran, bukan melakukan konfrontasi langsung dengan Iran.

Michael Knights membandingkan langkah tersebut dengan misi Aspides milik Uni Eropa di Laut Merah yang dibentuk untuk melindungi kapal dagang, bukan mengubah keseimbangan militer.

Bagi Iran, kondisi tersebut menunjukkan strateginya mulai membuahkan hasil. Meski tidak mampu menandingi kekuatan militer Amerika Serikat secara langsung, Teheran tetap dapat meningkatkan biaya yang harus dikeluarkan oleh  negara-negara lain untuk menjaga kelancaran perdagangan global.

Setiap ancaman baru, baik di Selat Hormuz, Bab al-Mandeb, maupun jalur pelayaran lainnya, memaksa pemerintah dan angkatan laut berbagai negara untuk mengerahkan lebih banyak sumber daya.

Pada akhirnya, pertarungan ini dinilai lebih bergantung pada daya tahan masing-masing pihak.

Iran meyakini mampu bertahan lebih lama di bawah tekanan ekonomi. Sebaliknya, koalisi pimpinan Amerika Serikat dinilai tidak akan mampu menghadapi gangguan berkepanjangan terhadap perdagangan global dan pasar energi.

Selain itu, Teheran juga berharap strategi tersebut dapat memperkuat posisinya apabila negosiasi kembali digelar.

"Jika negosiasi benar-benar terjadi, Iran ingin ikut menentukan syarat-syaratnya," kata Ray Takeyh dari Council on Foreign Relations yang juga mantan penasihat Iran di Departemen Luar Negeri AS.

Meski demikian, baik Washington maupun Teheran sama-sama belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Kondisi tersebut membuat risiko konflik yang lebih luas tetap membayangi kawasan. (ARF)