Pure Battery bangun pabrik bahan baku baterai di KEK Batang
Rabu, 05 Agustus 2026
SEMARANG — Perusahaan teknologi baterai asal Australia, Pure Battery Technologies (PBT), berkomitmen untuk berinvestasi senilai US$350 juta di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang, Jawa Tengah.
Investasi tersebut akan digunakan untuk membangun pabrik precursor cathode active materials (pCAM), salah satu bahan baku utama baterai lithium-ion bagi kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi surya.
Dikutip dari Antara, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan bahwa pembangunan pabrik dijadwalkan dimulai pada 2027. Proyek tersebut diperkirakan akan menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja selama masa konstruksi.
Luthfi mengatakan investasi tersebut sejalan dengan pengembangan energi terbarukan di Jawa Tengah. Ia berharap produk pabrik tidak hanya ditujukan untuk pasar ekspor, tetapi juga dapat memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri.
"Kami ingin industri nasional memperoleh pasokan bahan baku dari pabrik ini sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri," ujarnya saat menerima jajaran manajemen PBT.
Menurut Luthfi, potensi pasar kendaraan listrik dan energi terbarukan di Jawa Tengah masih sangat besar. Provinsi tersebut memiliki sekitar 38 juta penduduk yang tersebar di 35 kabupaten dan kota.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga terus memperluas pemanfaatan energi surya, termasuk melalui pemasangan panel surya di gedung-gedung pemerintah dan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya terapung di waduk serta danau.
Selain itu, pemerintah daerah berencana untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik pada layanan transportasi umum.
Stephen Wilmot selaku Chairman PBT mengatakan perusahaan kini memasuki tahap rekayasa (engineering) sebagai persiapan pembangunan fasilitas produksi tersebut.
Saat mulai beroperasi nanti, pabrik diperkirakan akan mempekerjakan sekitar 200 karyawan tetap. Angka tersebut belum termasuk tenaga kerja di sektor pendukung seperti logistik, transportasi, dan pengiriman.
"Kami tidak ingin mendatangkan pekerja dari luar negeri. Kami ingin melatih tenaga kerja lokal agar dapat bekerja di pabrik ini," kata Wilmot.
Ia menyebut proyek di KEK Batang merupakan investasi terbesar yang pernah dilakukan PBT. Kapasitas pabrik tersebut juga diperkirakan lebih dari empat kali lipat dibandingkan fasilitas pemurnian milik perusahaan di Jerman.
Pabrik tersebut diproyeksikan dapat menghasilkan pendapatan sekitar US$900 juta per tahun, meski realisasinya tetap bergantung pada pergerakan harga nikel.
PBT akan menggunakan nikel dari Indonesia sebagai bahan baku untuk membangun rantai pasok baterai yang terintegrasi. Produk pCAM yang dihasilkan nantinya akan digunakan untuk baterai kendaraan listrik, bus listrik, hingga sistem penyimpanan energi skala besar.
"Kami ingin membangun rantai nilai kendaraan listrik secara menyeluruh, termasuk pengelolaan baterai yang telah habis masa pakainya. Kami juga akan mendaur ulang baterai agar tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan," ujar Wilmot. (ARF)