Survei Reuters: Ekonomi 2026 membaik, dolar AS tetap melemah

Selasa, 23 Desember 2025

image

WASHINGTON - Tahun yang berat bagi dolar Amerika Serikat (AS) dinilai mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi di penghujung 2025.Namun demikian, mayoritas investor masih meyakini tren pelemahan mata uang tersebut akan berlanjut pada 2026, seiring membaiknya pertumbuhan ekonomi global dan berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).

Meski dolar sempat menguat dalam beberapa bulan terakhir, dengan indeks dolar naik hampir 2 persen dari level terendah September, mayoritas ahli strategi valuta asing tetap mempertahankan proyeksi pelemahan dolar pada 2026. Hal ini tercermin dalam survei Reuters yang dilakukan pada 28 November hingga 3 Desember.Sepanjang tahun ini, dolar AS telah melemah sekitar 9 persen terhadap sekeranjang mata uang utama, menempatkannya di jalur kinerja terburuk dalam delapan tahun terakhir.Tekanan terhadap dolar dipicu oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, menyempitnya selisih suku bunga dengan negara maju lainnya, serta meningkatnya kekhawatiran atas defisit fiskal AS dan ketidakpastian politik.Investor secara luas memperkirakan pelemahan dolar akan berlanjut, terutama karena bank sentral utama lain cenderung menahan, bahkan berpotensi memperketat, kebijakan moneternya.Pergantian pimpinan The Fed juga diperkirakan membawa arah kebijakan yang lebih dovish, sehingga menambah tekanan pada mata uang AS.Secara historis, dolar cenderung melemah saat The Fed memangkas suku bunga, karena imbal hasil aset berdenominasi dolar menjadi kurang menarik bagi investor global.“Faktanya, dolar AS masih terlalu mahal dari sudut pandang fundamental,” ujar Kepala Strategi Pasar di perusahaan pembayaran korporasi global Corpay, Karl Schamotta, seperti dikutip Reuters, Senin (22/12).Arah pergerakan dolar menjadi krusial bagi investor mengingat peran sentralnya dalam sistem keuangan global.Dolar yang lebih lemah dapat mendongkrak laba perusahaan multinasional AS melalui peningkatan nilai pendapatan luar negeri saat dikonversi kembali ke dolar, sekaligus meningkatkan daya tarik pasar internasional lewat keuntungan nilai tukar.Data Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan nilai tukar efektif riil dolar berada di level 108,7 pada Oktober, hanya sedikit turun dari rekor tertinggi 115,1 pada Januari.Kondisi tersebut menandakan dolar AS masih berada pada level overvalued.Ekspektasi pelemahan dolar juga didorong oleh prospek konvergensi pertumbuhan ekonomi global.Keunggulan pertumbuhan AS diperkirakan menyempit seiring membaiknya momentum ekonomi di negara-negara besar lainnya.“Saya pikir yang berbeda kali ini adalah negara-negara lain di dunia akan tumbuh lebih cepat tahun depan,” kata Manajer Portofolio di Brandywine Global, Anujeet Sareen.Stimulus fiskal Jerman, dukungan kebijakan dari China, serta perbaikan prospek pertumbuhan zona euro dinilai akan menggerus premi pertumbuhan AS yang selama ini menopang dolar.“Ketika negara-negara lain mulai menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik, itu mendukung pelemahan dolar yang berkelanjutan,” ujar Direktur Strategi Pendapatan Tetap dan Valuta Asing di Amundi, Paresh Upadhyaya.Bahkan investor yang menilai fase terburuk pelemahan dolar telah berlalu tetap mengingatkan bahwa tekanan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi AS dapat kembali membebani mata uang tersebut.Ekspektasi berlanjutnya pemangkasan suku bunga The Fed, di tengah sikap bank sentral utama lain yang cenderung menahan atau menaikkan suku bunga, juga berpotensi memperlemah dolar.Faktor politik turut menjadi perhatian pasar. Mundurnya Jerome Powell dan peluang Presiden Donald Trump menunjuk Ketua The Fed baru membuka ruang bagi ekspektasi kebijakan yang lebih akomodatif, sejalan dengan dorongan Trump terhadap suku bunga yang lebih rendah.

Beberapa kandidat yang disebut-sebut, seperti penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett, mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh, serta Gubernur The Fed saat ini Chris Waller, pernah menyampaikan pandangan bahwa suku bunga seharusnya berada di bawah level saat ini.Di sisi lain, pasar memperkirakan Bank Sentral Eropa (ECB) akan mempertahankan suku bunga pada 2026, meski peluang kenaikan belum sepenuhnya tertutup.ECB menahan suku bunga acuannya pada pertemuan Desember sekaligus merevisi naik sebagian proyeksi pertumbuhan dan inflasi.Meski prospek jangka panjang mengarah pada pelemahan dolar, investor menilai penguatan jangka pendek masih mungkin terjadi.Antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI) dan derasnya arus modal ke pasar saham AS berpotensi menopang dolar dalam waktu dekat.Selain itu, dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi AS dari dibukanya kembali pemerintahan setelah penutupan tahun ini serta pemangkasan pajak yang telah disahkan juga dinilai dapat memberikan dukungan bagi dolar pada kuartal pertama 2026. (DK)