Jeff Schmid dorong The Fed perketat kebijakan demi redam inflasi
Rabu, 05 Agustus 2026
JAKARTA - Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Jeff Schmid, menilai kebijakan moneter yang lebih ketat masih diperlukan untuk membawa inflasi Amerika Serikat kembali ke target 2%.
Menurutnya, tekanan harga tetap menjadi tantangan utama di tengah kinerja ekonomi yang relatif solid.
Dalam pidatonya pada Selasa, Schmid mengatakan inflasi masih berada di level yang terlalu tinggi meski sejumlah indikator ekonomi menunjukkan kondisi yang cukup kuat.
“Perekonomian tampaknya menunjukkan kinerja yang baik, dengan pengecualian yang mencolok pada inflasi,” ujar Schmid, seperti dikutip Reuters.
Pejabat The Fed yang tahun ini tidak memiliki hak suara dalam Federal Open Market Committee (FOMC) tersebut tidak menjelaskan kapan maupun seberapa besar kenaikan suku bunga yang menurutnya diperlukan.
Pernyataan Schmid menjadi komentar pertamanya sejak rapat FOMC pekan lalu yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%.
Dalam pertemuan tersebut, tiga pejabat The Fed memilih menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi, sementara mayoritas anggota memutuskan mempertahankan kebijakan saat ini.
Sejumlah pejabat The Fed dalam beberapa hari terakhir juga membuka peluang pengetatan kebijakan lebih lanjut, bergantung pada perkembangan data ekonomi dan inflasi.
Di sisi lain, pelaku pasar mulai mengantisipasi kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat. Namun, arah suku bunga masih menjadi tanda tanya setelah Ketua The Fed Kevin Warsh belum memberikan panduan yang jelas mengenai prospek kebijakan ke depan.
Schmid mengingatkan tekanan inflasi yang dipicu gangguan pasokan tidak boleh diabaikan. Ia juga menilai penurunan harga energi yang sempat meredakan inflasi kemungkinan hanya bersifat sementara di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.
“Meskipun data inflasi terbaru untuk bulan Juni menunjukkan perlambatan yang menggembirakan, terlalu dini untuk memberikan bobot berlebih pada satu titik data saja dibandingkan dengan tren terkini,” kata Schmid.
Ia menambahkan, “Dengan kembali naiknya harga minyak, belum dapat dipastikan seberapa bertahan lama dampak penurunan harga energi tersebut.”
Selain harga energi, Schmid juga menilai lonjakan investasi di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi menjadi sumber tekanan inflasi baru yang perlu diperhatikan bank sentral.
Menurutnya, tingkat inflasi inti masih berada di atas target 2% sehingga The Fed perlu mempertahankan fokus untuk memastikan stabilitas harga benar-benar kembali tercapai.(DH)