Kim Yo Jong: Korut akan siapkan opsi militer tambahan bagi Jepang

Kamis, 06 Agustus 2026

image

SEOUL — Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, memperingatkan bahwa Pyongyang akan menyiapkan "opsi militer tambahan" sebagai respons atas penguatan kemampuan militer Jepang. Peringatan tersebut disampaikan setelah Jepang menguji rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika Serikat.

Dikutip dari Reuters, Kim menuduh Jepang tidak lagi sekadar membangun kemampuan pertahanan. Menurutnya, Tokyo kini mengembangkan kekuatan militer yang mampu melancarkan serangan pendahuluan dan operasi militer di luar negeri.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui media pemerintah KCNA. Kim menyinggung uji coba rudal Tomahawk dari kapal perusak Aegis Chokai di Samudra Pasifik. Ia juga menyoroti uji coba rudal lain serta keterlibatan Jepang dalam latihan militer gabungan yang dipimpin Amerika Serikat di Filipina pada Mei lalu.

Kim mengatakan Korea Utara akan merespons dengan langkah yang membuat Jepang merasakan ancaman keamanan yang lebih besar.

"Kita harus membuat mereka menyesal," ujar Kim, dalam salah satu pernyataan paling keras terhadap Jepang dalam beberapa bulan terakhir.

Ia juga menuduh Amerika Serikat berada di balik penguatan militer Jepang melalui pasokan rudal Tomahawk, modifikasi kapal perang, serta dukungan terhadap uji coba rudal tersebut.

"Amerika Serikat berada di balik langkah-langkah militer berbahaya Jepang," kata Kim.

Kim, yang memimpin Departemen Dokumentasi Partai Pekerja Korea, mengatakan bahwa kemampuan serang jarak jauh yang kini dimiliki Jepang menempatkan Korea Utara dan negara-negara tetangganya dalam jangkauan serangan.

Untuk menghadapi aktivitas militer Jepang yang dinilai berpotensi mengancam keamanan Korea Utara, Kim mengatakan Pyongyang akan menyiapkan "opsi militer tambahan". Namun, ia tidak menjelaskan langkah yang dimaksud.

Pernyataan tersebut menjadi yang terbaru dari serangkaian kritik Korea Utara terhadap kerja sama keamanan antara Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang.

Sejak Juli, KCNA telah menerbitkan sedikitnya enam editorial dan komentar yang mengecam latihan militer gabungan dari ketiga negara. Menurut Korea Utara, kegiatan tersebut mengancam stabilitas kawasan dan meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.

Sejumlah analis menilai Pyongyang berupaya menggambarkan modernisasi militer Jepang sebagai ancaman langsung untuk membenarkan pengembangan persenjataannya.

Profesor University of North Korean Studies, Yang Moo-jin, mengatakan pernyataan Kim bertujuan menggambarkan langkah Jepang sebagai bagian dari upaya Amerika Serikat memperkuat kemampuan militer sekutunya untuk menghadapi Korea Utara.

Sementara itu, Profesor Institute for Far Eastern Studies di Kyungnam University, Lim Eul-chul menilai pernyataan tersebut dapat menjadi landasan bagi Korea Utara untuk menggelar demonstrasi militer baru, termasuk uji coba rudal atau unjuk kemampuan serangan bawah laut. (ARF)