SINI sasar first-cut PBC di kuartal IV 2026, pembebasan lahan baru 45%
Kamis, 06 Agustus 2026
JAKARTA – PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menargetkan dua tambang barunya untuk melaksanakan first-cut di akhir 2026 dan akhir 2027 mendatang. Namun, Perseroan masih menghadapi kendala dalam proses pembebasan lahan, dan masih menjajaki pihak off-taker penjualan batu bara.
Dua proyek tambang batu bara tersebut dikelola oleh dua anak usahanya, PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP). Keduanya memiliki Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) di Kapuas, Kalimantan Tengah.
Menurut keterangan terbaru SINI, PBC ditargetkan melangsungkan first cut pada kuartal IV 2026, sedangkan first-cut CBP diproyeksikan akan berlangsung pada semester II 2027.
“Setelah akses jalan ke CBP selesai dibangun dan setelah pengesahan atas pengajuan RKAB CBP tahun 2027 didapatkan,” jelas manajemen SINI dalam penjelasannya ke BEI, Kamis (6/8).
SINI mengungkapkan bahwa jalan angkut untuk proyek PBC kini sudah selesai dibangun dan sedang dalam tahap surfacing. Sementara itu, pembangunan hauling road untuk CBP sudah mencapai 83,74%.
“Pelabuhan dan stockpile akan menggunakan fasilitas milik pihak ketiga,” imbuh manajemen.
PR SINI: Pembebasan lahan dan off-takerTerlepas dari target dan progres yang sudah berlangsung, manajemen SINI mengaku masih menghadapi kendala dalam proses pembebasan lahan untuk area operasional PBC dan CBP.
Perseroan menyebutkan beberapa kendala utamanya, antara lain adalah klaim kepemilikan lahan yang tumpang tindih, proses negosiasi dengan pemilik lahan, serta proses verifikasi legalitas yang menghabiskan waktu.
“Sampai dengan tanggal penyampaian tanggapan ini, progress pembebasan lahan telah mencapai sekitar 45% untuk PBC, dan 15% untuk CBP dari total kebutuhan lahan yang direncanakan,” tulis manajemen.
Menurut keterangan resmi, produksi batu bara keduanya memang baru akan tercatat pada tahun 2027. PBC akan beroperasi selama 9 tahun hingga 2035, dan CBP selama 8 tahun hingga 2034 mendatang.
Namun, manajemen SINI mengaku bahwa belum ada penandatanganan kontrak penjualan batu bara produksi PBC dan CBP dengan pihak manapun, dan masih dalam proses pencarian off-taker.
“Perseroan saat ini sedang melakukan penjajakan dengan beberapa calon pembeli yang memiliki kapasitas dan pengalaman di industri terkait,” ujar manajemen.
Sebagai catatan, PBC memiliki estimasi volume produksi lapisan tanah penutup sebesar 189 juta BCM dan produksi batubara sebesar 42 juta ton – dengan stripping ratio diupayakan stabil di level 4,5 selama usia tambang.
Sedangkan pengupasan overburden CBP diperkirakan mencapai 40 juta BCM dengan produksi 8 juta ton. Perseroan akan menjaga stripping ratio di level 5 sepanjang usia tambang tersebut.
IDNFinancials sebelumnya juga telah melaporkan bahwa PBC berpotensi menghasilkan pendapatan hingga US$2,6 miliar atau Rp45,6 triliun, sedangkan potensi pendapatan CBP mencapai US$656 juta atau Rp11,5 triliun.
Dengan demikian, SINI berpotensi meraup total Rp57,1 triliun dari dua proyek tambang tersebut sepanjang usia tambangnya hingga 2034-2035. (ZH)