Ekonom Sri-Kumar: Krisis terburuk 2026, hanya sedikit aset yang aman

Selasa, 23 Desember 2025

image

JAKARTA – Ekonom global Komal Sri-Kumar memperingatkan bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi periode krisis ekonomi terburuk dalam 50 tahun terakhir, dengan hanya segelintir aset yang mampu bertahan di tengah tekanan stagflasi global.

Peringatan tersebut disampaikan Presiden Sri-Kumar Global Strategies, firma riset ekonomi dan geopolitik berbasis di AS, dalam wawancara yang dipublikasikan di kanal YouTube David Lin pada 19 Desember.

Sri-Kumar dikenal sebagai ekonom senior yang kerap memberi pandangan strategis kepada investor institusi, bank sentral, dan korporasi global. Ia juga dikenal sebagai risk interpreter dan market signaler memiliki latar belakang panjang di bidang ekonomi makro internasional, kebijakan moneter, serta risiko geopolitik, dan sering muncul sebagai narasumber di media keuangan global.

Dalam wawancara tersebut, Sri-Kumar menilai dunia tengah bergerak menuju stagflasi, yakni kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi, dengan tingkat keparahan yang mengingatkan pada era 1970-an.

Dilansir finbold.com, kondisi ini diperkirakan akan memberi tekanan signifikan terhadap perekonomian global, terutama pasar tenaga kerja.

Ia memproyeksikan inflasi pada 2026 akan bertahan di atas 3%, disertai meningkatnya risiko resesi akibat kebijakan tarif perdagangan dan melemahnya permintaan global.

Di sisi pasar keuangan, kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang mencerminkan ekspektasi investor bahwa inflasi akan tetap tinggi, meskipun Federal Reserve mulai memangkas suku bunga jangka pendek.

Kurva imbal hasil yang menanjak juga berpotensi mendorong kenaikan suku bunga kredit perumahan, yang pada akhirnya dapat menekan belanja konsumen.

Sri-Kumar menilai tantangan kebijakan semakin besar karena mandat ganda The Fed—menjaga stabilitas inflasi dan tingkat pengangguran rendah—kian sulit dicapai secara bersamaan.

Ketidakpastian meningkat setelah The Fed memberi sinyal kesiapan memangkas suku bunga meski data ketenagakerjaan masih terlihat solid, dengan alasan adanya keraguan terhadap keakuratan data resmi.

Menurutnya, pengambilan kebijakan moneter yang lebih bertumpu pada intuisi ketimbang data yang solid berisiko menggerus kepercayaan pasar terhadap bank sentral AS.

Dari sisi fiskal, defisit anggaran AS yang diperkirakan mencapai sekitar 6,5% dari PDB, ditambah rencana pemangkasan pajak dan peningkatan belanja, dinilai berpotensi memperparah tekanan inflasi. Kondisi ini, menurut Sri-Kumar, menyerupai situasi yang memicu lonjakan inflasi pada periode 2020–2022.

Pandangan kehati-hatian juga disampaikan analis lain, Henrik Zeberg, yang menilai Federal Reserve mengabaikan sejumlah sinyal jelas menuju perlambatan ekonomi tajam.

Selain risiko makroekonomi, Sri-Kumar menyoroti tantangan struktural yang dihadapi dunia usaha, khususnya dampak kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi yang berpotensi menghilangkan lapangan kerja secara permanen, terutama bagi pekerja muda.

Sebagai langkah antisipasi, Sri-Kumar menyarankan investor mempertimbangkan aset lindung nilai, terutama logam mulia.

Harga emas dan perak telah mencatat kenaikan signifikan sepanjang 2025 seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian global. Ia bahkan memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$5.000 per ons pada akhir 2026.

Sementara itu, mata uang alternatif seperti yen Jepang dinilai kurang ideal sebagai aset lindung nilai karena keterbatasan likuiditas, kontrol modal, serta tantangan struktural ekonomi Jepang.

Sebagai alternatif, Sri-Kumar menyarankan investor mempertimbangkan aset riil, termasuk properti, sebagai bagian dari strategi diversifikasi.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa seluruh elemen pembentuk stagflasi kini telah terlihat, dan krisis yang diperkirakan terjadi pada 2026 berpotensi berdampak luas—mulai dari konsumen hingga investor—seiring perang dagang global yang diperkirakan tetap menjadi isu utama. (DK)