CAD Indonesia melebar, cadangan devisa turun. Apa risikonya?
Jumat, 07 Agustus 2026
JAKARTA - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) memproyeksikan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia melebar pada 2026, seiring meningkatnya impor dan masih tingginya kebutuhan pembiayaan eksternal.
Dalam riset Indonesia Macro Glint tertanggal 5 Agustus 2026, memperkirakan CAD mencapai 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026, naik dari 0,1% pada 2025.
Sementara itu, rasio cadangan devisa terhadap kebutuhan impor (reserve cover) diproyeksikan turun menjadi 5,6 bulan impor dari 6,3 bulan impor pada tahun sebelumnya.
Lead Economist Danamon, Irman Faiz, mengatakan pelebaran CAD saat ini terutama dipengaruhi oleh defisit neraca migas akibat tingginya harga minyak dunia.
"Pelebaran Current Account Deficit (CAD) saat ini mayoritas disebabkan oleh neraca migas, terkait dengan harga minyak dunia yang masih tinggi. Namun dengan perkembangan geopolitik terakhir, harga minyak mulai kembali menurun sehingga masih ada potensi neraca perdagangan kembali surplus dan memperkecil CAD," ujar Irman kepada IDNFinancials.com melalui WhatsApp, Kamis (6/8).
Irman menilai ketidakpastian global masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Namun, kondisi diperkirakan mulai lebih stabil setelah September, seiring berakhirnya alokasi anggaran perang Amerika Serikat (AS) dan dinamika politik menjelang pemilu paruh waktu (mid-term election) di negara tersebut.
"Perkembangan global memang masih sangat tidak pasti, namun kami melihat setelah bulan September kondisinya seharusnya lebih stabil seiring dengan anggaran yang diantisipasi Amerika Serikat (AS) untuk perang hanya sampai September, serta adanya agenda mid-term election di AS pada November mendatang yang kemungkinan House of Representatives-nya akan diambil alih oleh Partai Demokrat. Jika ini terjadi, anggaran perang harusnya tidak dapat ditambah lagi," katanya.
Menurut Irman, CAD diperkirakan tetap berada di bawah 1,5% terhadap PDB, jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelum pandemi yang sempat mencapai 2%-3%.
Ia menambahkan, penurunan cadangan devisa tidak hanya dipengaruhi oleh pelebaran CAD, tetapi juga arus keluar modal (capital outflow) dari aset domestik serta pembayaran utang luar negeri.
"Ke depan, CAD akan melebar namun nilainya masih relatif rendah, yaitu di bawah 1,5% dari PDB. Adapun cadangan devisa yang menurun memang ada kontribusi dari pelebaran CAD, tetapi faktor utamanya kami melihat masih terkait capital outflows dari aset domestik dan kebutuhan pembayaran utang eksternal. Jadi, selama aset domestik dijaga daya tariknya, seharusnya cadev kita masih ada potensi untuk stabil atau meningkat menuju akhir tahun," ujarnya.
Dalam riset yang sama, Danamon memperkirakan BI Rate naik menjadi 6,25% pada akhir 2026 dari 4,75% pada akhir 2025.
Di sisi eksternal, impor diproyeksikan tumbuh 16,29%, melampaui pertumbuhan ekspor yang diperkirakan sebesar 4,56%. Kenaikan impor didorong kebutuhan barang modal untuk proyek energi hulu, seperti Masela dan ENI LNG, yang masih berada pada tahap konstruksi. Setelah beroperasi, proyek tersebut diperkirakan akan meningkatkan kapasitas ekspor dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Danamon juga mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,3% pada kuartal II-2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi internal sebesar 5,2% dan konsensus pasar sekitar 5,1%. Meski demikian, laju pertumbuhan melambat dibandingkan 5,6% pada kuartal I-2026.
Investasi menjadi penopang utama pertumbuhan dengan kontribusi meningkat menjadi 2,06 poin persentase, dari 1,79 poin persentase pada kuartal sebelumnya.
Untuk semester II-2026, Danamon memperkirakan belanja pemerintah tumbuh 12,6%, lebih rendah dibandingkan 17,8% pada semester I-2026 karena pola realisasi anggaran yang masih terkonsentrasi pada akhir tahun. Dengan proyeksi tersebut, Danamon mempertahankan estimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 di level 5,2%.
Rupiah Jadi Risiko Terbesar
Irman menilai pelemahan rupiah menjadi risiko paling signifikan karena berdampak langsung terhadap inflasi impor, beban utang valas, kenaikan imbal hasil obligasi, hingga ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Meski demikian, ia menegaskan akar persoalan tetap berada pada defisit transaksi berjalan. Selama CAD masih dapat dibiayai oleh arus modal yang berkualitas, tekanan terhadap sektor eksternal dinilai masih dapat dikelola.
"Karena itu, menjaga kepercayaan investor dan daya tarik aset rupiah tetap menjadi prioritas utama pada 2026. Di saat yang sama, pembenahan struktural terhadap current account perlu terus dilakukan agar fundamental rupiah semakin kuat menghadapi tekanan global di masa mendatang," tutup Irman. (DH)