Laba OCBC naik 22% ditopang lonjakan pendapatan non-bunga 51%
Jumat, 07 Agustus 2026
WASHINGTON – Dua bank terbesar Singapura, OCBC dan UOB, membukukan kenaikan laba pada kuartal II-2026 berkat pertumbuhan pendapatan dari bisnis wealth management dan layanan berbasis komisi yang mampu mengimbangi tekanan dari penurunan suku bunga terhadap bisnis kredit.
OCBC, bank terbesar kedua di Singapura, mencatat laba bersih kuartalan tertinggi sepanjang sejarah sebesar 2,22 miliar dolar Singapura atau naik 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Seperti dikutip Reuters, realisasi tersebut melampaui konsensus analis yang memperkirakan laba sebesar 1,93 miliar dolar Singapura.
Kinerja OCBC ditopang lonjakan pendapatan nonbunga sebesar 51% menjadi 1,91 miliar dolar Singapura.
Pertumbuhan tersebut didorong kenaikan pendapatan berbasis komisi sebesar 28%, lonjakan pendapatan perdagangan 85%, serta peningkatan pendapatan asuransi sebesar 68%.
Pendapatan dari bisnis wealth management OCBC selama semester pertama juga mencapai rekor 3,29 miliar dolar Singapura atau tumbuh 27% secara tahunan.
Sementara itu, aset kelolaan (assets under management/AUM) perbankan meningkat 13% menjadi 350 miliar dolar Singapura.
Seiring kinerja tersebut, OCBC menaikkan proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini menjadi kisaran tinggi satu digit hingga rendah dua digit, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya di level menengah satu digit.
Perseroan juga menaikkan dividen interim menjadi 47 sen Singapura per saham dari sebelumnya 41 sen.
Sementara itu, UOB membukukan laba bersih kuartal II sebesar 1,48 miliar dolar Singapura, naik 10% dibandingkan tahun sebelumnya dan melampaui estimasi analis sebesar 1,40 miliar dolar Singapura.
Pendapatan berbasis komisi UOB meningkat 5% menjadi 665 juta dolar Singapura, ditopang rekor pendapatan dari bisnis wealth management.
Selama semester pertama, pendapatan segmen tersebut tumbuh 16%, termasuk kenaikan 30% di pasar Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Vietnam.
Meski demikian, UOB memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan berbasis komisi sepanjang 2026 menjadi kisaran rendah satu digit dari sebelumnya tinggi satu digit.
Bank tidak menjelaskan alasan perubahan proyeksi tersebut. UOB juga mempertahankan target pertumbuhan kredit tahun ini di kisaran rendah satu digit.
Baik OCBC maupun UOB mencatat penurunan net interest margin (NIM), indikator utama profitabilitas bisnis pinjaman.
NIM OCBC turun menjadi 1,70% dari 1,92% setahun sebelumnya, sedangkan UOB turun menjadi 1,74% dari 1,91%.
Sebelumnya, DBS juga melaporkan penurunan NIM menjadi 1,87% dari 2,05%.
Meski tekanan pada pendapatan bunga masih berlanjut, kuatnya bisnis pengelolaan kekayaan mempertegas posisi Singapura sebagai pusat wealth management regional.
Tren tersebut juga tercermin pada peningkatan pendapatan dari nasabah kaya yang sebelumnya telah dilaporkan oleh DBS, HSBC, dan Standard Chartered di tengah volatilitas pasar global serta ketidakpastian geopolitik. (DK)