Data centre menjamur, empat sektor diproyeksikan tambah makmur
Senin, 17 November 2025

JAKARTA – Empat sektor komoditas diproyeksi akan ikut tersengat sentimen positif dari tren menjamurnya data centre sebagai infrastruktur digital global dan reli saham-saham terkait AI di Amerika Serikat (AS).
Prediksi ini dikemukakan oleh Jeff Currie, mantan Kepala Riset Komoditas Global Goldman Sachs, pekan lalu (12/11), seperti dikutip dari Business Insider.
Menurutnya, investasi pada saham AI seharusnya dimulai dari komoditas dasar yang “klasik” dan menopang data centre, seperti gas alam, logam dasar, logam mulia, dan minyak mentah.
Menurutnya, gas alam akan menjadi sumber energi penggerak turbin gas data centre, sedangkan minyak mentah akan menjadi bahan baku listrik untuk data centre.
Selain itu, logam dasar seperti tembaga, baja, aluminium, serta logam mulia seperti emas, perak, dan paladium juga memiliki kegunaan yang luas sebagai komponen data centre, misalnya untuk grid.
Dari keempat sektor tersebut, sektor logam mulia, terutama emas, memang sudah menunjukkan tren bullish yang signifikan sejak beberapa tahun terakhir.
Namun, perlu dicatat bahwa emas memang tidak melulu diminati sebagai aset investasi, namun juga sebagai bahan baku dalam industri, meski porsinya sangat sedikit.
“Emas yang keluar dari mulut tambang itu 80% dibeli untuk investasi, sedangkan yang dibeli untuk kebutuhan industri itu cuma 20%,” jelas Helmi Arman, Chief Economist Citi Indonesia, pada IDNFinancials.com saat ditemui di Media Gathering awal November lalu (5/11).
Sejalan dengan proyeksi Jeff Currie, laporan riset Citigroup juga memberikan outlook positif bagi sektor logam industri seperti tembaga dan aluminium dalam beberapa tahun depan, seiring dengan potensi pemulihan ekonomi AS.
Namun, tak seperti saham-saham AS di sektor emas yang meroket 128,33% sejak awal tahun, atau tembaga yang naik 33,04%, saham-saham migas AS hanya menunjukkan kenaikan moderat 7,53% – kalah dari performa S&P500 yang sudah tumbuh 14%.
Di sisi lain, di Indonesia, performa saham emiten migas seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), bertumbuh sekitar 15% dan 8% sejak awal tahun hingga pukul 13.33 WIB hari ini, Senin (17/11).
Bahkan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), emiten migas hulu milik Happy Hapsoro menunjukkan lonjakan lebih dari 600% sejak pencatatannya di awal tahun.
Selain itu, seperti yang diberitakan IDNFinancials.com kemarin (15/11), beberapa saham emiten penambangan dan perdagangan emas, seperti PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) juga tercatat melonjak tajam sejak awal tahun.
Sementara itu, saham-saham logam dasar non-emas, seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Tembaga Mulia Semanan Tbk (TBMS) juga melesat, dengan beberapa prospek operasional tambang dan smelter yang menjanjikan. (ZH)