Harga emas melesat 5%, pasar tunggu data tenaga kerja AS

Jumat, 07 Agustus 2026

image

JAKARTA - Harga emas menguat pada perdagangan Jumat (7/8) dan bersiap mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2026.

Penguatan didorong pelemahan harga minyak dunia, sementara pelaku pasar menantikan data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Seperti dikutip Reuters, harga emas spot naik 0,4% menjadi US$4.254,11 per ons pada pukul 01.56 GMT, setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam tujuh pekan. Secara mingguan, harga logam mulia tersebut telah menguat lebih dari 5%.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS naik 0,3% menjadi US$4.312,00 per ons.

Analis Senior StoneX, Matt Simpson, mengatakan meredanya ketegangan di Timur Tengah telah menurunkan ekspektasi inflasi sehingga mendukung penguatan harga emas.

"Harapan akan perdamaian di Timur Tengah mendorong penurunan ekspektasi inflasi, sehingga harga emas melonjak naik dari fase konsolidasi selama beberapa minggu di atas level $4.000."

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan konflik dengan Iran diyakini akan segera berakhir. Pernyataan tersebut turut menekan harga minyak mentah yang bersiap mencatat penurunan mingguan.

Pelemahan harga energi dinilai dapat meredakan tekanan inflasi dan mengurangi ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka panjang.

Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.

Pelaku pasar kini menanti rilis data nonfarm payrolls (NFP) AS untuk Juli yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat. Data tersebut diperkirakan akan menjadi acuan utama dalam menentukan arah kebijakan moneter The Fed.

Simpson menilai level US$4.000 per ons telah menjadi area penopang yang kuat bagi harga emas. Menurutnya, investor masih berpotensi memanfaatkan koreksi harga untuk kembali masuk ke pasar.

"Terlepas dari bagaimana hasil NFP nantinya, level $4.000 telah terbukti menjadi level support yang kuat... emas tampak berpotensi untuk reli."

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September sebesar 55%, turun dari 63% sepekan sebelumnya.

Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem kembali menyuarakan dukungannya terhadap kenaikan suku bunga. Menurutnya, pengetatan kebijakan secara bertahap lebih baik dibandingkan harus melakukan kenaikan yang lebih agresif di kemudian hari.

"Kenaikan suku bunga secara bertahap dan perlahan sejak awal lebih baik, tidak terlalu mengganggu, dan tidak terlalu memakan biaya dibandingkan dengan perubahan suku bunga yang mungkin terjadi kemudian secara lebih mendadak."

Pada perdagangan logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,8% menjadi US$61,96 per ons, platinum menguat 0,4% menjadi US$1.735,71 per ons, sedangkan paladium turun 0,3% menjadi US$1.367,06 per ons. Ketiga logam tersebut tetap berada di jalur penguatan secara mingguan. (DH)