India bantah akan impor etanol dari AS

Sabtu, 08 Agustus 2026

image

NEW DELHI — Pemerintah India menegaskan tidak akan memberikan konsesi maupun komitmen untuk mengimpor etanol dari Amerika Serikat dalam perundingan perjanjian dagang bilateral kedua negara.

Dikutip dari Reuters, Kementerian Perdagangan India menyatakan kebijakan pencampuran etanol ke dalam bensin tetap mengutamakan pasokan dari dalam negeri.

India saat ini mewajibkan bensin mengandung campuran 20% etanol (E20). Regulasi yang berlaku hanya mengizinkan etanol produksi domestik digunakan sebagai bahan campuran bensin.

Kementerian menegaskan bahwa  kabar yang menyebut India akan membuka impor etanol dalam skala besar dari Amerika Serikat tidak benar.

India dan Amerika Serikat masih merundingkan perjanjian dagang bilateral. Perundingan tersebut bertujuan memperluas akses pasar dan mengurangi hambatan perdagangan. Seorang pejabat senior Amerika Serikat bulan lalu mengatakan kesepakatan tersebut diperkirakan dapat ditandatangani dalam tiga hingga empat bulan ke depan.

Penerapan bensin E20 masih menuai polemik di India. Pemerintah mulai memberlakukannya secara nasional pada 2025, meski target awalnya baru pada 2030. Kebijakan tersebut diterapkan lebih cepat untuk mengurangi impor minyak.

Namun, penerapan E20 memicu protes, gugatan hukum, dan keluhan dari sebagian pemilik kendaraan. Mereka mengaku konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros dan sejumlah komponen kendaraan mengalami kerusakan.

Pekan ini, Society of Indian Automobile Manufacturers (SIAM) menarik kembali surat yang sebelumnya dikirim kepada pemerintah mengenai dugaan kerusakan kendaraan akibat bahan bakar E20 yang terkontaminasi.

SIAM menyatakan bahwa data yang disampaikan dalam surat tersebut masih memerlukan verifikasi melalui pengumpulan data yang lebih luas. Maka dari itu, asosiasi memutuskan untuk mencabut surat tersebut.

Meski menarik surat tersebut, SIAM tidak membantah adanya dugaan kontaminasi pada bahan bakar E20. Dalam surat yang diperoleh Reuters, asosiasi tersebut menyebutkan bahwa anggotanya menemukan peningkatan kerusakan komponen kendaraan yang diduga dipicu tingginya kadar klorida dalam bahan bakar.

SIAM juga menemukan kadar air pada bahan bakar E20 lebih tinggi dari seharusnya. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membuat kendaraan tidak dapat dihidupkan setelah mengisi bahan bakar. Karena itu, SIAM meminta pemerintah memperketat pengawasan kualitas bahan bakar.

Pemerintah India membantah tudingan bahwa E20 menyebabkan masalah pada kendaraan secara luas. Kementerian Perminyakan menyebut hanya menemukan dua kasus kontaminasi klorida dari sekitar 2.000 pengujian kualitas bahan bakar.

Seorang pejabat senior pemerintah yang enggan disebutkan namanya mengatakan kekhawatiran terhadap E20 lebih banyak dipicu oleh informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, belum ada bukti yang mendukung klaim tersebut. (ARF)