Lonjakan solar ganggu panen sawit di Kalimantan dan Sumatra
Sabtu, 08 Agustus 2026
JAKARTA – Aktivitas panen kelapa sawit di Pulau Kalimantan dan Sumatra, dua wilayah utama produksi sawit Asia Tenggara, mulai terganggu akibat kenaikan harga bahan bakar dan kelangkaan pasokan.
Seperti dikutip Reuters, kondisi ini berpotensi menekan produksi minyak sawit yang merupakan minyak nabati paling banyak digunakan di dunia.
Gangguan panen yang berlangsung lebih lama dapat mengurangi produksi di Indonesia dan Malaysia, dua produsen sawit terbesar dunia. Kondisi tersebut terjadi ketika pola cuaca El Nino diperkirakan mengurangi curah hujan dan menekan hasil panen, sementara harga minyak sawit acuan Malaysia telah naik lebih dari 15% sepanjang tahun ini.
Dampak paling parah dirasakan petani di negara bagian Sabah dan Sarawak, Malaysia, di Pulau Kalimantan.
Harga solar nonsubsidi di wilayah tersebut melonjak hampir 120%. Sementara petani sawit di Sumatra menghadapi keterbatasan pasokan bahan bakar.
“Tekanan keuangan membuat petani kecil tidak mampu memanen, sehingga lahan berisiko terbengkalai dan produktivitas sawit secara langsung menurun,” kata Napolean R Ningkos dari Sarawak Dayak Oil Palm Planters Association.
Sabah dan Sarawak menyumbang 43,9% dari produksi minyak sawit mentah Malaysia yang mencapai 20,28 juta metrik ton pada 2025. Kedua wilayah tersebut menjadi bagian penting dari pasokan sawit dunia yang digunakan untuk berbagai produk, mulai dari minyak goreng hingga kebutuhan rumah tangga.
Sementara itu, Sumatra menyumbang sekitar 55% produksi minyak sawit Indonesia, berdasarkan data Kementerian Pertanian.
Lokasi perkebunan sawit yang terpencil dan kondisi geografis Kalimantan membuat petani menghadapi biaya lebih tinggi untuk mengumpulkan serta mengangkut tandan buah segar ke titik pengumpulan atau pabrik pengolahan.
Malaysia menyediakan solar bersubsidi dengan harga 2,10 ringgit per liter, tetapi kuotanya dibatasi 200 liter per bulan.
Menurut Napolean, jumlah tersebut jauh di bawah kebutuhan operasional rata-rata petani yang mencapai sedikitnya 500 liter per bulan.
“Petani kini mengurangi frekuensi panen dari sekitar 2,5 kali menjadi dua kali, bahkan hanya 1,5 kali atau satu kali dalam sebulan,” katanya.
Menurutnya, pengangkutan hasil panen membutuhkan konsumsi bahan bakar yang besar.
Sistem kuota subsidi solar yang dirancang berdasarkan kondisi wilayah dan infrastruktur yang relatif datar di Malaysia Barat dinilai tidak sesuai dengan kondisi pedalaman Sabah dan Sarawak yang memiliki medan berat.
Kondisi tersebut terjadi ketika harga bahan bakar global meningkat dan pasokan mengetat sejak perang AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari.
Prospek El Nino pada paruh kedua tahun ini juga menambah risiko terhadap produksi sawit. Kondisi El Nino parah pada 2015 dan 2016 menyebabkan produksi minyak sawit Malaysia turun hingga 18%, sedangkan produksi Indonesia berkurang sekitar 3%.
Presiden United Sabah Smallholders Association Raphael Golout mengatakan tekanan biaya petani tidak hanya berasal dari transportasi, tetapi juga meningkatnya pengeluaran untuk generator listrik dan berbagai mesin pendukung.
Napolean dan Raphael meminta pemerintah meninjau kembali kebijakan subsidi solar agar lebih mencerminkan kondisi geografis dan tantangan ekonomi yang dihadapi petani di Sabah dan Sarawak.
Napolean memperkirakan keterlambatan panen dapat memangkas hasil produksi sawit Sarawak sebesar 15% hingga 20%.
Di Sumatra, salah satu pusat produksi sawit utama Indonesia, aktivitas petani juga terganggu akibat terbatasnya pasokan solar sejak pertengahan Juli, kata Gulat Manurung, Ketua kelompok petani kecil APKASINDO.
“Pengangkutan tandan buah petani terdampak karena seluruh kendaraan dan peralatan yang digunakan menggunakan mesin diesel,” ujarnya.
Masalah tersebut membuat interval panen diperpanjang menjadi delapan hingga 12 hari dari kondisi normal sekitar delapan hingga 10 hari. (DK)