Rudal Patriot AS menipis, perang Iran & Ukraina picu permintaan naik
Sabtu, 08 Agustus 2026
NEW YORK – Sistem pertahanan udara Patriot Amerika Serikat (AS) yang pertama kali digunakan dalam Perang Teluk 1991 kini menghadapi lonjakan permintaan.
Seperti dikutip Reuters, persediaan rudal pencegat Patriot menurun akibat perang Rusia-Ukraina dan meluasnya konflik di Timur Tengah.
Ukraina kini membutuhkan lebih banyak rudal pencegat Patriot untuk menghadapi serangan rudal balistik Rusia yang terjadi hampir setiap malam.
Namun, perang Iran turut menguras persediaan rudal di AS dan negara-negara Teluk, sementara sejumlah negara Eropa memilih mempertahankan stok untuk kebutuhan pertahanan mereka sendiri.
Patriot merupakan salah satu sistem pertahanan udara tercanggih dalam persenjataan AS. Sistem ini merupakan singkatan dari Phased Array Tracking Radar for Intercept on Target dan dikembangkan sebagai sistem pertahanan rudal permukaan-ke-udara bergerak.
Sistem tersebut dikembangkan pada 1980-an dan dibangun oleh perusahaan pertahanan AS Raytheon Technologies.
Patriot dapat digunakan dalam berbagai kondisi cuaca dan memiliki kemampuan pertahanan jarak jauh.
Satu unit baterai Patriot umumnya terdiri dari radar, sistem kendali, sumber daya listrik, peluncur, serta kendaraan pendukung.
Sistem ini dapat mencegat pesawat, rudal balistik taktis, dan rudal jelajah, tergantung jenis rudal pencegat yang digunakan.
Kemampuan Patriot berbeda berdasarkan jenis rudal pencegat.
Rudal PAC-2 menggunakan hulu ledak fragmentasi yang meledak di sekitar sasaran, sedangkan keluarga rudal PAC-3 menggunakan teknologi hit-to-kill yang menghancurkan target dengan menabraknya secara langsung.
Raytheon memproduksi rudal pencegat PAC-2 GEM-T yang dapat menghadapi rudal balistik jarak pendek, rudal jelajah, maupun pesawat musuh.
Sementara itu, Lockheed Martin memproduksi PAC-3 Missile Segment Enhancement (MSE), rudal yang lebih canggih dan mampu mencegat rudal balistik jarak lebih jauh, rudal jelajah, pesawat, hingga senjata hipersonik.
Pada Juli, Lockheed Martin memperkenalkan rudal pencegat baru PAC-3 Adapted Capability Effector (ACE).
Perusahaan menyatakan rudal tersebut akan memiliki biaya sekitar setengah dari sistem sebelumnya, namun tetap dapat digunakan untuk menghadapi rudal balistik jarak pendek, pesawat, dan rudal jelajah.
Radar Patriot memiliki jangkauan lebih dari 150 kilometer dan dapat melacak hingga 100 target potensial secara bersamaan, menurut NATO.
Meskipun awalnya tidak dirancang untuk menghadapi senjata hipersonik, AS mengonfirmasi pada Mei 2023 bahwa Ukraina menggunakan Patriot untuk menembak jatuh rudal Kinzhal Rusia yang diklaim Moskow sebagai rudal hipersonik.
Jumlah target yang dihancurkan Patriot dijaga ketat oleh negara-negara penggunanya. Ukraina pada Januari menyatakan sistem tersebut telah menghancurkan 250 target, termasuk 140 rudal balistik. Patriot juga dilaporkan menghancurkan puluhan rudal balistik Iran di kawasan Teluk, meski rincian jumlahnya belum dipublikasikan.
Raytheon telah memproduksi dan mengirimkan lebih dari 240 unit peluncur Patriot.
Raytheon dan Lockheed Martin secara keseluruhan telah memproduksi ribuan rudal pencegat.
Saat ini, 19 negara mengoperasikan sistem Patriot, termasuk AS, Jerman, Polandia, Ukraina, Jepang, Qatar, Arab Saudi, dan Mesir. Sebanyak 16 negara telah menggunakan rudal terbaru PAC-3 MSE.
Setidaknya enam hingga delapan negara juga telah meminta tambahan rudal untuk mengisi kembali persediaan yang menipis.
Biaya satu baterai Patriot baru diperkirakan mencapai lebih dari US$1 miliar.
Berdasarkan estimasi Center for Strategic and International Studies (CSIS), sekitar US$400 juta dialokasikan untuk sistemnya, sedangkan rudal dalam satu baterai mencapai US$690 juta.
Harga satu rudal pencegat PAC-3 diperkirakan sekitar US$4 juta hingga US$5 juta.
Jumlah persediaan rudal Patriot secara resmi dirahasiakan. Namun, CSIS memperkirakan sekitar 65% rudal pencegat Patriot AS telah digunakan antara Februari dan Juli.
Persediaan AS diperkirakan tersisa kurang dari 850 rudal, turun dari sekitar 2.330 rudal sebelum perang Iran dimulai.
Persediaan negara-negara Teluk juga mengalami penurunan tajam. Sejumlah negara Eropa bahkan telah mengirim sebagian stok mereka ke Ukraina.
Arab Saudi, misalnya, menggunakan sekitar 86% dari 2.800 rudal PAC-3 yang dimilikinya dalam 38 hari pertama konflik, sehingga hanya tersisa sekitar 400 rudal pada April, menurut CSIS.
Negara-negara Teluk lainnya juga menggunakan persediaan dalam jumlah besar.
Untuk mengisi kembali persediaan, AS telah menyetujui penjualan 5.250 rudal pencegat kepada Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
AS juga terus melakukan pembicaraan untuk memungkinkan Ukraina memproduksi rudal pencegat Patriot.
Pembicaraan tersebut mencakup opsi bagi Ukraina untuk memproduksi sejumlah komponen sebelum proses perakitan akhir dilakukan di negara Eropa lainnya.
Pada bulan lalu, Angkatan Darat AS memberikan kontrak kepada Lockheed Martin dengan nilai hingga US$58,6 miliar untuk memproduksi rudal pencegat Patriot.
Lonjakan penggunaan Patriot di berbagai konflik membuat kemampuan produksi rudal pencegat menjadi salah satu perhatian utama dalam upaya memperkuat kembali persediaan pertahanan udara AS dan sekutunya. (DK)